Sabtu, 12 Juli 2014

sebuah cerita : Haruskah perbedaan ini mengahalangi

Aku Ria saat ini aku terdaftar sebagai karyawati di sebuah perusahaan ternama di kotaku. Pekerjaanku cukup menguras otak dan tapi dibalik itu semua aku sangat mencintai pekerjaanku.

Saat ini usiaku sudah terhitung masuk dalam usia siap untuk menikah, tapi aku masih belum terlalu memikirkan hal itu, banyak teman-temanku yang telah memiliki keluarga bahkan tak sedikit pula yang telah memiliki anak. Jujur di hati yang paling dalam aku iri dengan mereka karena sampai saat ini aku merasa hubunganku dengan kekasihku jalan ditempat.

Kriiingg.....kriiiingg.... tiba- tiba saja aku dikejutkan dengan bunyi dari Hpku, ternyata yang menelpon adalah Surya kekasihku.
"Halo sayang,, lagi dimana kamu?"
"Iya halo juga sayang aku seperti biasa lagi di depan laptop mengerjakan setumpuk laporan, ada apa yank?"
"Haahh...apaa...jam segini kamu masih berkutat dengan laporan?? Ini sudah waktunya makan siang yank, aku ingin jemput kamu buat makan siang bareng. Lima menit lagi aku sampai, tunggu ya. Byee.."
"Taap..."tuuutt..tuuutt..tuutt.."iiihhh.. kebiasaan deh kamu yank selalu langsung nutup telpon sebelum aku selesai ngomong"
Lima menit kemudian lagi-lagi aku dikejutkan dengan dering dari hpku, dan ini dering sms. Ternyata Surya sudah menungguku di lobi. Bergegas aku turun ke lobi untuk menemui dan makan siang dengannya.

"Iiihhh...kamu bener-bener kebiasaan deh tiap aku belum selesai ngomong telpon udah dimatiin"
"Hehehee...maaf sayang, aku emang sengaja kalo gak langsung aku tutup pasti kamu bakal nolak dan lebih mentingin kerjaan daripada kesehatanmu"
"Hmmm...iyaaa,,iyaaa baweelll. Heran ya aku sama kamu harusnya yang lebih bawel itu cewek tapi malah kamu yang bawel"
"Hahahaa...biar deh"
Akhirnya mobil Surya berhenti di tempat makan kesukaan kami, dan kamipun memesan makanan yang kami inginkan
"Ria, aku ingin mengatakan sesuatu ke kamu"
"Hmmm..apa?"
"Maukah kamu menikah denganku?"
"Surya,,,kamu serius?"
"Aku amat sangat serius Ria, maukah kamu menikah denganku?"
"Aku mau Surya,,, aku mauu..."
Setelah aku menjawab Surya langsung memakaikan cincin itu di jari manisku.
Hari itu adalah hari yang paling bahagia buatku, tanpa aku sadari jawabanku atas lamaran Surya berdampak yang sangat luar biasa kemudian hari. Selama perjalanan pulang kantor aku tertawa-tawa bahagia sesampai dirumah langsung aku disambut pertanyaan oleh mama
"Ria, tumben kamu pulang kerja senyum-senyum gitu, ada apa?"
"Ria seneeeeenngg banget maa hari ini..."
" Kenapa? Habis dapet bonus ya kak" Adikku Lia menyambar
"Hmmm...ngawurr, bukan donk. Ini lebih menyenangkan daripada dapet bonus"
"Apa sih kak? Jangan bikin penasaran donk"
"Surya maa,,, tadi Surya kasih Ria cincin, Ria dilamar Ma"
"Apaa..!! Surya..?? Surya pacar kamu itu"
"Iya Pa, kenapa? Ada yang salah sama Surya?"
"Papa gak setuju Ria!! Papa gak setuju!!! Surya tidak seagama dengan kita!!!"
Langsung aku tersentak mendengar penolakan dari Papa karena selama aku berhubungan dengan Surya tidak ada penolakan sedikitpun dari Mama dan Papa, tapi kenapa sekarang Papa menolaknya. Dan apa yang harus aku katakan ke Surya tentang penolakan dari Papa. Ya Tuhan,, aku ga tau apa yang harus aku lakukan sekarang.

Hari itu aku lewati malam dengan gelisah, harusnya aku seneng kan malam ini karena akhirnya Surya melamarku dan impianku memakai gaun pengantin dapat terwujud, tapi kenyataan yang aku dapatkan sangat bertolak belakang dengan impianku. Akhirnya pagipun menjelang dan dengan tidak ada semangat aku berangkat ke kantor. Entah apa yang akan terjadi di kantor nanti dengan keadaan moddku yang kacau balau ini. Dan benar pekerjaanku hari ini keteteran, untung bos tidak terlalu perhatian dengan kekacauan kerjaanku. Tiba saat makan siang lagi-lagi Surya menelponku
"Selamat siang ibu yang super duper sibuk, sudah jam makan siang saya siap untuk menjemput ibu untuk makan siang bersama"
Saat aku dengar suara Surya langsung air mataku menetes
"Siang juga asistenku, iya sudah waktunya makan siang, siap untuk menjemputku?"
"Siaapp ibu direktur, saya sudah meluncur tunggu lima menit lagi ya"
"Iya"
Akhirnya kamipun kembali ke tempat makan seperti biasanya. dan dengan berat hati aku katakan apa yang di katakan oleh Papa kemarin.
"Surya,, kemarin aku bilang ke Mama dan Papa kalo kamu melamarku"
"Terus gimana dengan mereka?"
"Papaa.... Papa menolaknya yank, beliau beralasan karena agama kita berbeda" tanpa aku sadari air mataku kembali menetes. Aku melihat Surya sangat kaget dengan kata-kataku dan diapun tak dapat berkata apa-apa lagi. Siang itu kita lewati makan siang dengan suasana hati yang kacau balau tak menentu.

Malam itu aku menemui Mama untuk membicarakan hal ini.
"Ma,, Mama... Ria mau ngomong Ma"
"Eeh kak,, sini duduk sini"
"Ma,, Ria bingung. Kenapa Papa menolak lamaran Surya padahal selama ini Papa gak pernah menolak kedatangan Surya ke rumah dan Papa selalu baik dihadapan Surya, tapi kenapa kemaren Papa malah nolak?"
"Kak, sebenernya kita memang tidak boleh menikah dengan orang yang berbeda dengan keyakinan kita, ini sudah menjadi kesepakatan yang tidak tertulis dalam keluarga kita"
"Tapi Ma,, bukannya sebenarnya agama itu sama aja, toh kita juga sama-sama menyembah dan mengakui Tuhan kan meskipun dengan cara yang berbeda-beda"
"Iya Mama ngerti Kak, tapi tidak semua orang berpandangan seperti itu, contohnya Papamu kan. Kamu yang sabar ya kak, Mama yakin pasti ada jodoh yang tepat dan terbaik untuk kamu nanti dan mungkin itu bukan Surya"
Aku kaget dengan kata-kata Mama barusan, dengan kata lain Mama menginginkan aku untuk memutuskan lamaran Surya. Tuhan aku bingung, sangaat bingung, disatu sisi aku sangat mencintai keluargaku dan aku tidak mau kalau dicap sebagai anak yang durhaka dengan menentang mereka, tapi disisi lain aku juga sangat menyayangi dan mencintai Surya, Tuhan apa yang harus aku lakukan? Disaat kebingunganku tiba-tiba hpku berdering, kulihat sms dari Surya, Ria, besok aq akan ke rumahmu untuk bicara sama Papa dan Mamamu, aq akan yakinin kalo qt bisa bersatu meskipun ada perbedaan diantara qt. Tak sanggup aku membalas sms itu, aku hanya mampu menangis, dan menangis.

Keesokan harinya Surya benar-benar datang ke rumah untuk menemui Mama dan Papa
"Selamat siang Om, Tante"
"Siang, eehh Surya, mari silakan duduk"
"Iya tante, terima kasih"
Aku masih melihat Papa tak bergeming dari surat kabar yang dia baca, sampai tiba-tiba dengan nada yang keras Papa berbicara
"Ada apa kamu kemari Surya? Kalau niat kamu untuk meneruskan lamaran kamu kemarin Om tidak menyetujuinya, tentunya kamu juga sudah tau kan dari Ria kenapa Om tidak menyetujuinya?"
"Maaf Om, Tante kalau kedatangan saya mengganggu Om dan Tante, iya Om saya kesini untuk melanjutkan lamaran saya kemarin. Ria memang sudah menceritakan semuanya Om, dan saya kemari untuk menjelaskan bahwa di agama saya seorang laki-laki boleh menikah dengan wanita yang berbeda agama dengan  dia asal...."
"Tidaakk...!!!"
belum sempat Surya meneruskan kata-katanya Papa dengan keras memotong perkataan Surya
"Tidak Surya...!!! Apapun alasan kamu saya tidak pernah menerima dan menyetujui ini semua!!"
Aku pun sudah tidak bisa menahan emosiku sendiri
"Paa,,, kalo Papa tidak menyetujui hubungan Ria dengan Surya kenapa selama ini Papa diam saja, Papa tidak pernah menolak kedatngan Surya tiap Surya datang ke rumah, kenapa Pa...???"
"Ria selama ini Papa menerima Surya hanya sebagai teman dekat kamu, tidak sebagai calon suami kamu, Papa baik dengan dia karena Papa hanya menganggap di tidak lebih sebagai teman dekat kamu!!!"
Aku sudah tidak sanggup berkata apa-apa lagi dengan berurai air mata aku langsung lari keluar rumah meninggalkan mereka semua hingga akhirnya aku sadar Surya mengejarku
"Ria.. Ria tunggu Ria.. kamu mau kemana? Gak baik kayak gini, kamu gak akan menyelesaikan masalah dengan seperti ini"
"Tapi Ya,, akugak sanggup melihat Papa seperti itu, aku gak mau kalo harus meninggalkan ataupun ditinggalkan olehmu"
"Aku ngerti Ria, tapi kamu harus terima kenyataan ini, aku janji selama aku bisa perjuangkan ini semuanya aku akan terus berjuang demi hubungan kita ini. Percaya aku"
Setelah Surya meyakinkan aku akhirnya akupun kembali masuk ke rumah.
"Baiklah Om dan Tante saya permisi dulu, maaf kalo saya sudah mengganggu waktu istirahat Om dan Tante"
"Iya silakan kamu keluar dari rumah saya dan jangan pernah kembali menginjakkan kakimu ke rumah saya lagi"
Dengan nada ketus Papa menjawab pamitan Surya
"Papaaa....!!!!"
Akhirnya Suryapun pamit dengan diiringi air mata dan permintaan maaf dari Mama
"Surya, maafkan kata-kata Papanya Ria ya, mungkin dia masih kaget dan belum bisa menerima ini semua"
"Iya Tante tidak apa-apa. Saya pamit Tante, selamat siang"
"Iya selamat siang"
"Ya.. hati-hati ya"
 
"Papa jahat...Papa jahat sama Ria!!!!!"
"Ria...!!!! Sampai kapanpun Papa tidak akan pernah bisa menerima orang yang tidak satu agama dengan kita sebagai menantu Papa. Camkan itu baik-baik!!!!"
Akupun berlari ke kamarku dengan isak yang tak terbendung lagi, kenapa ini berat sekali apa aku sanggup melewati ini semua?
 Ya aku gak sanggup seperti ini, bagaimana kalo qt lari aja dari semua ini, aku ikhlas kalo harus lari berdua dengan km. Itulah sms kekalutan yang aku kirim untuk Surya. Tak berapa lama akhirnya Surya membalas smsku Ria, sayang.. jgn prnh km bicara spt itu lagi karena aq akan sngat gak setuju dng ide gila kamu itu. mslah itu untuk dihadapi bukan untk ditinggalkan begitu sja
Lama aku pandangi layar hp, tak tahu harus membalas bagaimana lagi hingga akhirnya aku tuliskan Surya, aku akan pndah agama mengikutimu. Yaa,,, akhirnya aku memutuskan untuk pindah agama mengikuti agama Surya tapi sms balasan dari Surya mengejutkanku Ria,, pindah agama bukan masalah yang mudah, km akn menemui kendala2 lg yg mgkn akn lbih berat lg. Ria km tnang aj aq akn sll syng dan cinta km apapun keadaan qt ini. Dan aq akn ttap berusaha dg caraku agr Papa km bs mnerima aq. Dan Ria klo memang qt berjodoh psti Allah akn mempertemukan qt dlm ijab qobul yg sah tnp ad paksaan. Sabar ya syang. Sekrng km bantu doa ya untuk mmbantu ushaku ini semoga Allah mengabulkan semua doa qt. Amiinn
Ya Tuhan begitu lapang hati Surya, dia orang baik Tuhan lancarkan semua niat baiknya ini, mudahkanlah semua ini karena Engkau tau niat yang dia punya itu baik.

Hari-haripun berlalu, tak terasa sudah 2bulan semenjak kejadian itu, dan Papa masih dengan keras hatinya menolak Surya, hingga suatu sore Papa, Mama memanggilku
"Ria, Papa dan Mama akan menjodohkan kamu dengan anak rekan bisnis Papa, dia juga seagama dengan kita. Namanya Adi, dia anak yang baik, mapan juga pekerjaannya"
Kaget aku mendengar kata-kata Papa
"Apa Pa..?? perjodohan?? Gak Pa... Ria gak mau..!! Ria menolak ini semua!!"
"Ria... kamu tidak bisa menolak ini semua karena pertunangan kamu sudah Papa dan Mama persiapkan minggu depan. Ini keputusan Papa, dan kamu harus mengikuti apa keputusan Papa. Mengerti kamu!!"
"Gak Pa... Ria gak mau...!!"
Langsung aku pergi meninggalkan mereka menuju kamarku. Aku langusng menelepon Surya untuk mengatakan hal ini
"Surya... halo.. Ya.. bawa aku lari dari sini Ya, aku gak mau ada disini lagi"
"Loohh.. ada ap syang, tiba-tiba kamu nangis gini?"
"Ya... aku dijodohin sama Papa,, minggu depan aku harus melangsungkan pernikahan, aku gak mau Ya... aku gak mau. Bawa aku pergi dari sini.. cepet Ya,, bawa aku pergi dari sini"
"Ria, aku gak bisa membawa kamu pergi dari rumah kamu, kalo memang Papa dan Mama kamu menginginkan kamu untuk menikah dengan laki-laki lain aku harus mencoba untuk ikhlas. Kalo aku membawa kamu pergi dari rumah keadaannya akan semakin rumit Ria, pasti akan timbul masalah-masalah lain lagi"
"Tapi Surya aku gak mau menikah dengan laki-laki lain. Aku hanya mau menikah dneganmu"
"Aku paham tapi keadaan tidak memungkinkan untuk itu Ria"
" Aku tetap akan menolak perjodohan ini Surya, akan tetap menolak"
Malam itu juga aku putuskan untuk pindah agama mengikuti Surya dan akan menikah dengan atau tanpa restu dari Papa

Keesokan harinya aku pergi menuju masjid untuk melakukan pindah agama, aku sudah menemukan masjid mana tempatku melakukan pembacaan kalimat syahadat karena selama ini aku sudah mencari info dan sudah membicarakan hal ini dengan Ustad masjid tersebut. Selama ini tanpa diketahui oleh Surya aku sudah mempelajari Islam, dan kini saatnya aku memutuskan untuk menjadi seorang muallaf.
"Assalamualaikum pak Ustad"
"Waalaikumsalam, silakan masuk mbak Ria"
"Iya pak"
"Bagaimana mbak Ria apa semua sudah siap? Mbak Ria sudah ikhlas untuk menjadi seorang mualaf?"
"Iya pak Ustad saya sudah ikhlas"
"Baiklah kalu begitu ikuti kata-kata saya ya mbak Ria  Asyhadu an-Laa Ilaaha Illallah wa Asyhadu an-na Muhammadarrosuululloh"
" Asyhadu an-Laa Ilaaha Illallah wa Asyhadu an-na Muhammadarrosuululloh"
Dengan terbata-bata dan air mata yang mengalir akhirnya aku berhasil mengucapkan kalimat syahadat tersebut. Dan hari ini aku sidah resmi menjadi seorang mualaf, dan aku berjanji dengan diriku sendiri aku akan menjadi pribadi yang baik, dan akan menjalani hidup sesuai dengan kaidah agama Islam.
Langsung aku sms Surya untuk mengatakan aku sudah resmi jadi mualaf Assalamualaikum Surya, aku mau kasih kamu kabar baik. Ya aku udah resmi jd mualaf sekarang :)
Waalaikumsalam, subhanallah Alhamdulillah bener yg km blg itu Ria? Papa dan Mama km setuju dg ini semua kn?
Mereka gak tau Ya aku jd mualaf, biarkan sj mreka ini kptusanku, kputusan untk msa depanku dan aku merasa tenang setelah aku mnjd seorang mualaf Ya

Akhirnya semua keluargaku mengetahui kalau aku sudah menjadi mualaf dan Papa adalah orang yang paling menentang ini semua, hingga pada akhirnya Papa jatuh sakit dan masuk rumah sakit. Disini keimananku diuji Papa mengatakan aku harus meninggalkan Islamku dan kembali memeluk agama yang sejak lahir telah aku imani, tapi dengan halus aku menolak keinginan Papa. Hingga akhirnya kondisi Papa semakin drop. Hingga suatu hari tiba-tiba Papa memanggilku, beliau ingin bicara empat mata denganku
"Ria,, Papa sadar Papa banyak salah sama kamu, selama ini Papa selalu memaksakan kehendak Papa ke kamu juga Karin, sekarang Papa tidak akan lagi memaksa kehendak Papa ke anak-anak Papa, kejadian yang telah Papa alami selama ini menyadarkan Papa untuk tidak menjadi orang tua yang egois. Ria Papa meyetujui kamu menjadi mualaf asalkan kamu tidak main-main dengan agama yang kamu imani sekarang, dan satu lagi Ria Papa meyetujui hubungan kamu dengan Surya. Papa ikhlas kamu menikah dengan Surya"
Aku tersentak kaget dengan apa yang telah Papa katakan ini tanpa sadar air matakupun menetes
"Papaa,, maafkan Ria Pa.. Selama ini Ria selalu buat Papa sedih, Ria belum bisa jadi anak yang baik untuk Papa dan Mama, Ria selalu membangkang atas semua perkataan Papa, hingga akhirnya Ria membuat keputusan seperti ini, terima kasih Pa, Ria janji Ria tidak akan bermain-main dengan agama Ria ini, Ria ingin menjadi seorang muslimah yang baik Pa. Terima kasih Pa, Papa sudah merestui hubungan Ria dan Surya"
Akhirnya saat itu juga kembali aku rasakan hangatnya pelukan Papa yang sempat hilang dari hidupku. Dan tiba-tibaaku rasakan pelukan Papa makin lama makin mengendur dan akhirnya terlepas, aku kaget setengah mati hingga aku berteriak-teriak memanggil dokter. Setelah dokter memriksa keadaan Papa ternyata Papa telah meninggalkan kita semua. Papa telah berpulang tanpa menyaksikan aku berubah menjadi sosok seorang muslimah dan tanpa menyaksikan acara pernikahanku. Pedih rasanya tapi aku sudah berjanji aku akan menuruti semua keinginan terakhir Papa. Papa.. tenang disana ya Pa.. bahagialah selalu di surga sang Illahi Rabbi.



PurpleGirl, July 13 '14
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar