Namaku Andyn, aku saat ini masih tercatat sebagai seorang mahasiswa di perguruan tinggi swasta di kota sebelah. Sebagai seorang mahasiswi aku selalu disibukkan dengan tugas dari dosen apalagi sekarang aku sudah masuk semester terakhir. Skripsi...yaaa skripsi hari-hariku dipenuhi oleh mengerjakan skripsi, tiap jam, menit, detik hanya skripsi yang menemaniku. Pacar,,,kemana pacarku?? Dia ada tapi dia berada di kota asalku. Kami sudah menjalin hubungan selama empat tahun, namun selama itu tak kunjung aku peroleh restu dari orang tuaku. Orang tuaku selalu mengatakan carilah calon suami yang baik, baik akhlak serta baik pula pekerjaannya. Memang pacarku hanyalah seorang pegawai freelance biasa namun dia memiliki akhlak yang baik serta kepribadian yang baik pula.
Selama aku kuliah, ibuku terus saja menanyakan mana kekasihku? tapi saat aku selalu bilang kalau Ridho lah kekasihku ibu selalu menolaknya. Sempat terfikir olehku untuk mengakhiri hubunganku dengan Ridho, karena aku capek terus-terusan hidup dalam hubungan yang entah bagaimana akhirnya. Namun Ridho selalu mengatakan kalau dia mampu menjadi apa yang diinginkan oleh orang tuaku.
Aku percaya Ridho mampu, karena selama aku bersamanya dia selalu memberikan yang terbaik untuk hubungan ini. Kadang aku iri saat melihat teman-temanku yang hubungannya direstui oleh orang tua, kenapa mereka bisa sedangkan aku tidak bisa?? Ada satu sahabatku yang selalu memberiku motivasi untuk terus melanjutkan hubunganku dengan Ridho tanpa harus melihat orang tuaku,
"Udahlah Ndyn kamu terusin aja hubungan kamu sama Ridho, hubungan kalian udah lumayan lama sayang kan kalo harus putus di tengah jalan, lagian pasti tar ortu kamu bakal capek dengan sendirinya dan kasih restu ke hubungan kalian".
Saat itu aku coba buat ikutin saran dari Hani sahabatku untuk tetap melanjutkan hubungan ini. Disisi lain Ridhopun terus memberi aku semangat untuk terus melanjutkan hubungan ini.
Pikiranku bercabang, antara skripsi dan kelanjutan hubungan ini, hingga pada akhirnya fisikku yang drop. Siang itu saat semua teman-temanku sibuk menemui dosen pembimbing, akupun juga ada bersama mereka tapi entah kenapa tiba-tiba kepalaku berputar-putar dan tanpa aku sadari menetes darah dari hidung. Saat itu ada Hani disampingku, dia kaget melihat kondisiku, aku yang terus menahan sakitnya kepalaku tiba-tiba ambruk tak sadarkan diri. Langsung teman-teman yang lain membopongku ke ruang kesehatan untuk diperiksa, untung saja dokter jaga di ruang kesehatan masih ada. Saat aku sadar dokter sudah berbincang dengan Hani dan terdengar samar sang dokter mengatakan aku harus segera melakukan cek lab dan segera dibawa ke rumah sakit.
"Hani saya rasa Andyn harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang lebih memadai lagi karena kalo cuma diperiksa disini masih belum maksimal"
"Apa kondisi Andyn parah dok? soalnya saya takut ada apa-apa sama Andyn karena selama saya bersama dia saya tidak pernah melihat dia kesakitan".
"Maka dari itu lebih cepat Andyn dibawa ke rumah sakit lebih baik, soalnya saya curiga dari tanda-tandanya dia mengidap leukemia".
Bagai petir di siang hari,,leukemia....penyakit leukemia????separah inikah kondisiku?? Ya Tuhan,,cobaan apa lagi ini??
Setelah ngobrol dengan dokter Widi Hani menghampiriku,
"Ndyn, kamu udah sadar?? Kamu udah denger penjelasan dari dokter Widi tadi?"
"Iya Han, aku udah denger semuanya, apa separah ini kondisiku Han?apa bener aku kena leukemia?
"Aku juga belum tau Ndyn, lebih baik besok aku temenin kamu ke rumah sakit ya, biar lebih jelasnya gimana."
"Tapi aku takut Han, aku takut kalo emang bener aku kena leukemia"
"Udahlah Ndyn kita kan belum tau yang sebenere jadi g usah takut gitu, aku janji aku bakal selalu nemenin kamu."
"Makasih ya Han kamu emang sahabat terbaikku."
Keesokan harinya aku ditemani oleh Hani menuju rumah sakit, disana aku menjalani rangkaian tes. Di rumah sakit itu aku menemui dokter Aldi
"Andyn,hasil lab kamu masih belum bisa jadi hari ini, kemungkinan besok udah jadi. Kamu bisa ambil ke rumah sakit lagi, dan ini aku berikanka kamu resep."
"Iya dok, besok aku akan datang lagi untuk ambil hasil labku. Makasih ya dok."
"Iya Ndyn, lekas sembuh ya."
"Iya dok."
"Andyyyyynnn,,,,,wooooyyy....banguuuunnnn....gak ke kampuz kamu?? mank gak ada jadwal bimbingan?"
"Aaaahh...beriiissiiikk kamu Han,,aku gak ada jadwal bimbingan kok hari ini tapi ada jadwal ketemu dokter cakep...hihiihihii"
"Haaahh....dokter cakep??siapaaa??dokter Aldy ya??"
"Yuuppzzz...tar aku mau ambil hasil lab Han, temenin lagi ya..eh ya aku harap kamu jangan kasih tau Ridho ya soal aku kemaren."
"Ok dh aku temenin, siiiaaapp,,aku gak bakal bilang ke ridho kok Ndyn."
"Siippp...aku mandi dulu deh Han, bentar ya."
Hari itu dengan ditemenin Hani aku pergi ke rumah sakit lagi, deg-degan dan takut yang aku rasain. Sampai akhirnya aku sampai di ruangan dokter Aldy, ternyata dokter Aldy sudah menungguku.
"Siang dok, maaf dok datengnya siang"
"Siang juga Ndyn, iya gak papa kok. Oh ya ini hasil dari lab kamu kemaren. Kamu yang kuat ya."
Dengan tangan yang gemetar aku buka amplop coklat itu. Dan.....benar apa yang dikatakan dokter Widi, aku terkena leukemia.
"Dok, ini...ini gak salah dok? Ini hasil labku kemaren dok? Gak dok, ini gak bener kan? Ini bukan hasil labku kan dok? Pasti ini salah kan dok?"
Akupun menangis sejadinya di ruang dokter Aldy. Dan Hanipun ikut melihat hasil lab itu.
"Kamu yang sabar ya Ndyn, memang itulah hasil lab kamu kemaren,leukemia kamu udah stadium tiga,dan kamu kalo ingin sembuh kamu harus operasi."
Tanpa dikomando lagi, akupun lansung keluar dari ruangan dokter Aldy. Sampai diluar rumah sakit Hani mengehentikan langkahku.
"Ndyn, sabar ya ini cobaan, kamu harus kuat. Kamu gak sendiri Ndyn, ada aku yang bakal selalu nemenin kamu."
"Aku gak nyangka Han, kenapa harus aku? Kenapa bukan orang lain yang megalami ini? Ya Tuhan,,leukemia Han,,,leukemia,,setau aku ini bukan penyakit yang enteng."
"Aku ngerti gimana perasaan kamu Ndyn, tapi ini realita, ini fakta yang harus kamu hadapi. Yaudah sekarang kita pulang aja yuk, istirahat. Kamu gak boleh terlalu capek."
Akupun pulang ke kos bareng Hani, sesampai di kos lagsung aku tumpahkan semuanya.
Berminggu-minggu lamanya aku berdiam diri di kamar kos, sampai suatu ketika Ridho datang ke kosku karena aku pun juga telah lama mengabaikan dia.
"Sayang, kamu kemana aja? Sebenere apa yang kamu sembunyikan dari aku?"
Aku tak mampu menjawab pertanyaan dari Ridho, hanya air mata yang menjawab semua pertanyaannya.
"Aku gak papa kok yank, aku cuma lagi gak enak badan aja, biasa kan harus ngurusin skripsi tiap hari."
"Bener kamu gak papa? Ini aku bawain coklat kesukaan kamu."
" Makasih yank,iya bener aku gak papa kok."
Akhirnya seharian itu aku ditemani Ridho dan Hani di kos. Sampai akhirnya Ridho pamit untuk pulang.
"Sayang aku pulang dulu ya. Kamu cepet sembuh ya, tar kalo kamu udah sembuh aku bakal ajak kamu kemanapun kamu mau."
"Iya sayang doain aku bisa cepet sembuh ya."
"Kamu pasti sembuh yank, apapun sakit kamu aku yakin kamu pasti sembuh."
"Iya sayang, makasih doanya ya. Kamu ati-ati ya, tar nyampe rumah langsung kasih kabar aku ya."
"Iya sayang, pasti. aku pulang dulu ya."
Hari-haripun berganti dengan cepat, kondisikupun semakin membaik, membaik karena aku selalu konsumsi obat-obat itu. Sampai pada akhirnya sidang skripsipun telah aku lewati, dan tidak terasa besok adalah hari yang paling aku tunggu-tunggu selama empat tahun kuliah. Besok wisuda...yaaa,, wisuda. Hari ini kedua orang tua serta adik-adikku datang ke kota ini.
Hari H-pun telah usai, semarak wisuda telah rampung. Aku dan kedua orang tua serta adik-adikku kembali ke kos. Tapi ini justru merupakan awal dari semuanya.
"Ndyn, umur kamu sudah dewasa, ayah dan ibu sudah berpikir untuk mencarikan kamu calon pendamping hidup kamu."
"Maksudnya bu? Mencarikan gimana? Kan Andyn udah punya pacar bu."
"Andyn pacar kamu itu apa bisa mencukupi kehidupan kamu nantinya? Apa pekerjaan pacar kamu? Gak jelas kn? Ibu sama Ayah udah memutuskan kamu harus menikah denga anak dari teman kita, anaknya baik, sholeh, pintar dan yang pasti jelas asal usulnya."
Remuk hatiku mendengar kata-kata ibu, sampai seigitunya ibu menilai Ridho, seburuk itukah Ridho dimata ibu? Setidak pantas itukah Ridho untuk menjadi anggota keluarga ini?
Akupun kembali ke kota kelahiranku, dan suatu hari ibu mempersiapkan berbagai macam masakan dan makanan
"Bu, tumben ibu masak segini banyaknya, untuk apa bu?"
"Nanti ada tamupenting Ndyn, udah sana kamu siap-siap dulu."
"Kok Andyn disuruh siap-siap sih bu? memangnya siapa sih tamu penting itu?"
"Udah sana kamu siap-siap dulu Ndyn, jangan lupa pake baju yang pantas."
"Iiiihh...ibu aneh dh,,iya sh Andyn siap-siap dulu."
Malam tepat jam tujuh tamu penting itupun datang, aku pun ikut menyalami mereka satu persatu. Dan tiba pada sosok itu, aku merasa tidak asing dengan sosok itu. Lama kami saling berpandangan danakhirnya akupun ingat siapa sosok itu. Yaa...dia adalah dokter Aldy, dokter yang menangani penyakitku, untuk apa dokter Aldy kesini?
Pada akhirnya aku paham untuk apa dokter Aldy datang, yaa...dokter Aldy inilah yang akan dijodohkan orang tuaku denganku. Ya Tuhan,,,,apalagi ini? Selama pertemuan ini aku lebih banyak diam, dokter Aldy pun begitu hingga pada akhirnya ibu menyuruh aku untuk ngobrol berdua dengan dokter Aldy.
"Gimana kabarmu Ndyn? Aku denger kamu udah wisuda ya kemaren?"
"Kabarku ya gini-gini aja dok, kadang masih sering mimisan."
"Obatnya gak pernah telat minum kan?"
"Gak kok dok, cuma kalo lagi banyak pikiran dan banyak kegiatan aku sering pusing dan akhirnya mimisan itu."
"Kalo gitu jangan sering-sering banyak pikiran donk Ndyn, hehehee"
"Iya dok."
Hanya itu yang bisa aku balas dari lelucon yang dilontarkan dokter Aldy.
"Sebenere aku gak tau siapa yang akan orang tuaku kenalkan ke aku, kemaren saat aku pulang orang tuaku cuma bilang kalo aku akan dikenalin dengan seorang anak teman mereka."
"Ooo...sama dok aku juga gak tau kalo yang akan dikenalkan itu dokter."
"Jangan panggil dok lah Ndyn, panggil aja Aldy."
"Iya Aldy. Kamu udah tau apa maksud orang tua kita mengenalkan kita ini?"
"Iya,,aku tau Ndyn, mereka ingin kita menikah"
"Tapi kan kita baru kenal, mana mungkin kita menikah, apa kamu setuju dengan perjodohan ini Al?"
"Sebenernya aku kurang setuju dnegan adanya perjodohan tapi aku gak mau mengecewakan kedua orang tuaku Ndyn, mereka menaruh harapan besar untukku, yaa kamu tau kan aku adalah anak pertama, jadi mereka juga inginkan yang terbaik untukku."
"Tapi Al, kamu juga tau sendiri kan, aku penyakitan, umurku gak panjang apa gak malah menambah beban kamu kelak?"
"Sakit pasti ada obatnya Ndyn, dan kalo memang kita berjodoh aku ikhlas kok terima kamu dengan segala kondisi kamu saat ini."
"Apa bener itu semua Al?"
"Iya Ndyn, tapi kalo kita belum ada jodoh aku harap kita tidak akan jadi musuh, aku harap kita akan bisa tetep jadi saudara."
Lama kami berbincang dan akhirnya dia dan keluaganya pun pamit pulang.
Akupun menceritakan hal ini ke Hani, Hani sangat kaget mendengar cerita ini.
"Gilaa....dokter Aldy Ndyn? dokter Aldy dokter kamu itu kan?"
"Iya Han,, aku bingung. Jujur disatu sisi aku gak mau kecewain kedua orang tuaku, tapi disisi lain aku juga gak mau kecewain Ridho, kamu tau sendiri kan gimana lamanya hubunganku dengan Ridho."
"Iya Ndyn aku ngerti, ternyata orang tua kamu bener-bener gak bisa terima Ridho. Ndyn apa kamu sanggup ngomong hal ini ke Ridho? kalo sebenere kamu udah di jodohin?"
"Sebenere itu yang aku pikirin selama ini Han, aku mikir aku akan ngomong ini semua ke Ridho, aku nyerah Han, aku nyerah."
"Andyn, kalo mank kalian bisa pertahanin hubungan kalian ini kenapa kamu nyerah?"
"Aku nyerah Han, aku udah gak bisa terusin hubunganku dengan Ridho terlalu rumit semua ini."
"Kalo mank itu keputusan kamu, aku bakal dukung Ndyn, kamu yang sabar ya, yakin ada hikmah dan kebahagiaan di balik ini semua."
Malam itu setelah aku telfon Hani tiba-tiba saja kepalaku pusing lagi. Tapi yang aku rasa ini lebih pusing dari biasanya dan akhirnya darah segar pun menetes dari hidungku. Ya Tuhan kenapa jadi seperti ini? Lebih baik aku Kau panggil sekarang, aku ikhlas Tuhan. Tanpa sadar aku pun tertidur dengan masih berbalut seprei yang terkena darah. Pagi-pagi aku kaget karena tiba-tiba aku dengar ibu sudah berteriak-teriak di depan kamarku.
"Andyynn.....ayoo banguun...udah siang Ndyynn..!!!"
"Iya ibu..Andyn udah bangun."
"Sarapan dulu Ndyn.. Eh ya tar siang Aldy mau ke rumah, kamu harus siap-siap ya"
Haduuhh...kenapa lagi sih anak itu dateng kerumah padahal hari ini aku mau nemuin Ridho
"Iya buu.."
Akhirnya akupun dengan badan yang masih lemas turun ke bawah untuk sarapan bersama,
"Ndyn tar Aldy mau ke rumah looh, kamu siap-siap ya"
"Iya bu, tadi kan ibu udah bilang kan"
Akhirnya siang itu pun Aldy datang ke rumah.
"Kamu kok keliatan pucet sih Ndyn? Pusing lagi? Atau jangan-jangan mimisan lagi?"
"Iya semalem aku pusing lagi Al sama mimisan lagi"
"Ya Tuhan,, banyak mimisanmu?"
"Ya lumayan sih Al pusing semalem juga gak kayak biasanya, berasa sakit banget semalem"
"Ndyn kamu harus periksa lagi, besok aku anter kamu periksa lagi ya. Aku takut kanker kamu makin parah"
"Memangnya kenapa kalo makin parah Al, bukannya lebih bagus ya jadi kan kamu gak akan repot-repot ngurusi orang yang penyakitan kayak aku ini"
"Kamu kok ngomong sinis gitu sih Ndyn? Salah kalo aku perhatian dengan calon istriku sendiri?"
Apa...calon istri?? Jadi Aldy udah bener-bener anggep aku calon istrinya??
"Tapi Al besok aku masih harus nemuin temen dulu"
"Aku anter kamu Ndyn"
"Gak usah Al,aku bisa sendiri kok, kalo aku butuh bantuan kamu aku bakal telpon kamu"
"Iya udah kalo mank tu maunya kamu, tapi bener ya besok kamu langsung telpon aku kalo kamu butuh apa-apa"
"Iya Al"
Malam harinya aku putuskan untuk menghubungi Ridho
"Sayang, besok kita ktemuan ya, ada hal penting yang harus kita bicarakan"
"Iya sayang aku jemput kamu dimana?"
"Gak usah jemput yank, besok aku naik taksi aja, besok kamu tunggu aku di tempat biasa ya jam 10 pagi ya yank"
"Ok sayang, beneran besok gak aku jemput?"
"Iya gak usah kamu jemput"
Akhirnya aku pun ketemu dengan Ridho, mungkin ini pertemuanku yang terakhir dengannya
"Sayang, aku minta maaf ya sama kamu, selama ini aku udah banyak salah sama kamu"
"Kok minta maaf sih? kamu gak ada salah apa-apa kok"
"Sayang,, aku...aku.. dijodohin sama orang tua aku. Dan aku gak bisa nolak yank."
"Apaa...kamu beneran ini?? Kamu becanda kan yank? Ini gak beneran kan??"
"Ini beneran yank, dan aku gak bisa nolak semuanya karena ternyata mereka udah memilih hari untuk pernikahanku. Maafin aku yank..maafin aku, aku gak bisa pertahanin dan perjuangin hubungan kita ini"
Tak sangggup aku tahan semua air mata ini, saat itu aku lihat pula dia menangis. Laki-laki yang aku lihat paling tegar akhirnya aku melihatnya runtuh.
"Baiklah yank kalo memang itu udah keputusan dari orang tua kamu aku bisa apa?Aku hanya manusia kecil yang tak ubahnya seperti debu yang dengan mudah mereka singkirkan"
"Stop Ridho!!! Apa kamu gak tau kalo aku juga terluka? Aku juga tersiksa dengan keadaan ini!!"
Akhirnya untuk terakhir kalinya aku merasakan pelukan Ridho, untuk terakhir kalinya...yaa terakhir kalinya.
Akhirnya akupun pulang, tapi disaat aku belum mendapatkan taksi Aldy menelponku
"Ndyn kamu dimana?? Kamu gak papa kan??"
Aneh,,kenapa tiba-tiba dia bertanya seperti ini?
"Aku di jalan Al, aku mau pulang tapi kepalaku pusing banget"
"Kamu dimana sekarang? Tunggu di situ aku bakal jemput kamu"
"Aku ada di cafe rain Al, iya aku tunggu"
"Ya udah kebetulan aku di daerah deket situ, tunggu aku Ndyn kamu jangan kemana-mana"
"Iya Al iya,,"
Selang lima belas menit setelah Aldy telpon dia sudah ada di depanku yang sedang menahan tangis dan sakit.
"Ayo kita ke rumah sakit Ndyn"
"Gak Al, aku mau pulang aja"
Tanpa sadar setelah mengucapkan kata-kata itu aku langsung pingsan
Setelah sadar aku sudah berada di rumah sakit, disana sudah ada ibu yang menangis dan ayah yang menahan tangisnya.
"Ibu,,ayah kenapa nangis? Andyn gak papa kok bu"
"Andyn kenapa kamu gak bilang sama ibu sama ayah kalo sebenernya kamu sakit nak? Kenapa???"
"Andyn gak sakit bu, Andyn baik-baik saja"
"Gak usah bohong Ndyn, Aldy udah cerita semua, kalo sebenernya kamu adalah pasiennya"
Ternyata penyakitku sudah semakin parah, dan dokterpun sudah mengatakan penyakitku sudah masuk stadium empat, itu tandanya aku sudah masuk dalam stadium yang terakhir. Tuhan..apa aku harus kembali padaMu? Ampuni dosa-dosaku Tuhan..Kuatkan selalu aku untuk hadapi semua ini.
Setelah kejadian itu hari-hariku di sibukkan dengan kemoterapi dan minum obat-obatan. Aldy selalu menemaniku di saat-saat sulitku, dia dengan sabar selalu menguatkan aku yang hampir rapuh. Benar kata ibu, dia orang yang baik, dia orang yang perhatian. Sampai akhirnya suatu hari dia mengatakan sesuatu
"Ndyn,, maukah kamu menikah denganku?"
Aku hanya mampu menatapnya tanpa mampu menjawab apa-apa saat dia mengeluarkan cincin itu dari tempatnya.
"Al apa kamu gak salah? Aku penyakitan Al dan umur aku gak panjag lagi. Lebih baik kamu cari perempuan sehat lainnya, yang bisa menemani dan menjagamu"
"Ndyn aku gak peduli dengan kondisi kamu saat ini, aku udah menyayangi kamu Ndyn setelah kita ketemu pertama kali, mungkin ini konyol tapi memang inilah yang aku rasain. Andyn putri darmawan sekali lagi aku katakan maukah kamu menikah denganku?"
Aku tak mampu berkata apa-apa lagi, dan tanpa aku sadari aku anggukkan kepalaku, dan dia langsung memakaikan cincin itu di jari manisku yang telah mengurus.
"Hehheee...cincinnya kegedean Al, hmmm...tapi cincinnya yang kegedean atau jariku ya yang mengecil...hehheee..."
"Hehheee..iya ni,halaah gampang tar kita pesen cincin yang ukurannya pas dengan jarimu"
"Al, makasih ya udah mau ngelamar aku yang kayak gini"
"Udah Ndyn kamu gak usah ngomong aneh-aneh aah...yang pasti sekarang aku udah resmi ngelamar kamu"
Setelah lamaran Aldy itu kondisiku semakin drop dan semakin drop. Aku capek Tuhan jika terus hidup seperti ini, hidup bergantung dengan obat-obatan. Aku ingin hidup normal lagi seperti dulu, aku ingin bisa tertawa lagi, aku ingin bisa tersenyum lagi becanda dengan teman-teman dan pergi keluar bareng-bareng. Kapan aku bisa seperti itu lagi Tuhan?? Kapan...???
Malam itu entah apa yang terjadi tapi yang jelas sebelum acara pertunangan itu selesai aku merasakan hal yang teramat sakit luar biasa. Lebih sakit dari biasanya, aku tidak sanggup untuk menahannya akhirnya aku pun pingsan. Saat aku berada dalam keadaan yang tidak sadar aku merasa ada di tempat yang indah, sejuk, dan disana aku bertemu dengan eyang putri. Eyang putri memanggilku.
"Andyn,, cucu eyang yang baik sini nak"
"Eyang,,Andyn ada dimana ini? Kok ada eyang disini?"
"Andyn ini kan yang kamu inginkan? Berada di tempat yang nyaman, indah, sejuk dan tanpa ada rasa sakit lagi?"
"Iya eyang,, ini yang Andyn mau.. Uuumm,,eyang Andyn boleh tinggal disini?"
"Iya Andyn kamu boleh tinggal disini, memang sekarang inilah rumahmu, tapi Andyn kamu harus pamitan dulu sam ayah dan ibumu. Kasian mereka kalo kamu tiba-tiba ilang dan tidak pamit"
"Iya eyang Andyn mau pamit dulu ya"
Ternyata aku sudah koma selama seminggu, saat aku sadar semua orang yang aku sayangi berada di sekelilingku. Mereka menangis sesenggukan apalagi ibu, aku lihat wajah ibu sudah sangat lelah. Saat mereka melihatku sadar senyum yang pertama mereka berikan. Ibu langsung memelukku dan ayah langsung meneteskan air mata, Aldy pun ada di sana. Aku tak sanggup berkata apa-apa lagi karena sudah terlalu sakit yang aku rasakan, aku meminta ayah untuk memberikanku pensil dan dengan susah payah aku dapat menulis satu kalimat
"Ayah, Ibu, Aldy maafin Andyn. Andyn capek,,Andyn ingin istirahat, Andyn ingin tidur"
Setelah menulis itu dan mendapat persetujuan dari mereka aku pun istirahat, aku pun tertidur dan kembali saat aku bangun aku melihat eyang telah menjemputku. Eyang telah membuka pelukannya untukku.
PurpleGirl, July 11 '14
Tidak ada komentar:
Posting Komentar