Haii Dear,,
G terasa ya udh tnggal 18 lg, g terasa juga udh 2bulan sama-sama saling isi hari dan saling mengerti.
Jujur ya aku g pernah nyangka bisa sama-sama kamu, yaaa...meskipun baru 2bulan kebersamaan kita tapi ini semua berasa amaziiiiing buat aku.
Sayank,, seperti umumnya orang yang punya impian dan harapan, akupun juga punya impian dan harapan untuk hubungan kita ini. G muluk-muluk dan g macem-macem kok harapanku, aku berharap hubungan kita bisa terus terjalin sampai pernikahan dan sampai tangan Tuhan yang pisahkan kita, tanpa ada yang dikhianati dan mengkhianati.
Sayank,,, aku inget deh gimana ekspresiku 2bulan yg lalu, ahahahaa....lucu pastinya, sumpah g pernah terpikir sama aku kamu ungkapin niat kamu. Bener-bener kejutan, dan kamu tau baru kali ini aku ngalamin hal yang bisa dibilang luar biasa selama hidupku. Entah kamu mau percaya atau g tapi ini yang aku rasain.
Aku bahagia dear...bahaagiaaaa banget bisa menjadi orang spesial dihidup kamu, bisa jadi pendamping kamu nantinya, dan bisa jadi bagian dari kisah hidup kamu. Mungkin kamu anggap aku terlalu berlebihan, tapi inilah aku :).
Kamu g usah takut dear, aku g akan terlalu menuntut dalam hubungan ini, karena dipertemukan sama kamu udah hal yg amazing buat aku. Tapi aku boleh kan minta sama kamu slalu jaga hati buat aku?dan terima aku apa adanya? Karena tanpa kamu mintapun aku disini slalu jaga hati buat kamu dan terima kamu apa adanya. Dan satu lagi jangan pernah ada kebohongan diantara kita. Bisa kan sayank?
Sayank,,, jujur ya aku g sabar looh bener-bener bisa nemenin kamu, ada disamping kamu, ngeliat kamu bangun tidur, ngeliat kamu mau tidur, nyiapin sarapan, nyiapain keperluan kamu sebelum berangkat kerja.. eheemmm,,,pasti seru ya :D ngeliat repotnya kamu berangkat kerja,ngeliat capeknya kamu pulang kerja... :D
Sayank,,, tau g kemaren aku sama temen-temen punya doa looh... Doanya semoga tahun depan bisa dipertemukan dengan bulan puasa dan udah puasa sama suami...Amiiinn... Ahahaahaa... lucu ya doanya, biar deh :)
Uuuummm....udah segini aja ya sayank luv letternya tar kamu biosen lagi kalo baca panjang-panjang :D... Jaga kesehatan slalu ya disana, meskipun aku g bisa sama kamu dulu sekarang ini, tapi aku slalu doa terbaik buat kelancaran urusan dan kerjaan kamu disana... :)
HEPI ULANGBULAN SAYANK.......DUA BULAN BERSAMAMU 1805-1807 :*
LONGLAST n KEEP ROMANTIC y DEAR
With luv your luvli.... :*
Jumat, 18 Juli 2014
Senin, 14 Juli 2014
Dia yg aku panggil Sahabat
dia yg aku panggil sahabat,,
telah lama bersama dlm suka dan duka
dia yg aku panggil sahabat,,
telah paham apa mau dan inginku
dia yg aku panggil sahabat,,
tanpa aku berkata dia tlah berikan pundaknya untuk aku tumpahi air mata
dia yg aku panggil sahabat,,
tanpa aku meminta dia telah beriku minum disaat dahagaku
tp sekarang entah dimana sahabatku itu
entah bagaimana kabarnya
entah apa yg telah terjadi padanya
tp sekarang tak mampu lg aku luapkan segala sedih dan senangku
tak mampu lg aku luapkan tawa dan tangisku
terlalu menyesakkan bila ku ingat semua itu
dia yg aku panggil sahabat,,
bahagialah kau dimanapun kau berada
telah lama bersama dlm suka dan duka
dia yg aku panggil sahabat,,
telah paham apa mau dan inginku
dia yg aku panggil sahabat,,
tanpa aku berkata dia tlah berikan pundaknya untuk aku tumpahi air mata
dia yg aku panggil sahabat,,
tanpa aku meminta dia telah beriku minum disaat dahagaku
tp sekarang entah dimana sahabatku itu
entah bagaimana kabarnya
entah apa yg telah terjadi padanya
tp sekarang tak mampu lg aku luapkan segala sedih dan senangku
tak mampu lg aku luapkan tawa dan tangisku
terlalu menyesakkan bila ku ingat semua itu
dia yg aku panggil sahabat,,
bahagialah kau dimanapun kau berada
Sabtu, 12 Juli 2014
sebuah cerita : Haruskah perbedaan ini mengahalangi
Aku Ria saat ini aku terdaftar sebagai karyawati di sebuah perusahaan ternama di kotaku. Pekerjaanku cukup menguras otak dan tapi dibalik itu semua aku sangat mencintai pekerjaanku.
Saat ini usiaku sudah terhitung masuk dalam usia siap untuk menikah, tapi aku masih belum terlalu memikirkan hal itu, banyak teman-temanku yang telah memiliki keluarga bahkan tak sedikit pula yang telah memiliki anak. Jujur di hati yang paling dalam aku iri dengan mereka karena sampai saat ini aku merasa hubunganku dengan kekasihku jalan ditempat.
Kriiingg.....kriiiingg.... tiba- tiba saja aku dikejutkan dengan bunyi dari Hpku, ternyata yang menelpon adalah Surya kekasihku.
"Halo sayang,, lagi dimana kamu?"
"Iya halo juga sayang aku seperti biasa lagi di depan laptop mengerjakan setumpuk laporan, ada apa yank?"
"Haahh...apaa...jam segini kamu masih berkutat dengan laporan?? Ini sudah waktunya makan siang yank, aku ingin jemput kamu buat makan siang bareng. Lima menit lagi aku sampai, tunggu ya. Byee.."
"Taap..."tuuutt..tuuutt..tuutt.."iiihhh.. kebiasaan deh kamu yank selalu langsung nutup telpon sebelum aku selesai ngomong"
Lima menit kemudian lagi-lagi aku dikejutkan dengan dering dari hpku, dan ini dering sms. Ternyata Surya sudah menungguku di lobi. Bergegas aku turun ke lobi untuk menemui dan makan siang dengannya.
"Iiihhh...kamu bener-bener kebiasaan deh tiap aku belum selesai ngomong telpon udah dimatiin"
"Hehehee...maaf sayang, aku emang sengaja kalo gak langsung aku tutup pasti kamu bakal nolak dan lebih mentingin kerjaan daripada kesehatanmu"
"Hmmm...iyaaa,,iyaaa baweelll. Heran ya aku sama kamu harusnya yang lebih bawel itu cewek tapi malah kamu yang bawel"
"Hahahaa...biar deh"
Akhirnya mobil Surya berhenti di tempat makan kesukaan kami, dan kamipun memesan makanan yang kami inginkan
"Ria, aku ingin mengatakan sesuatu ke kamu"
"Hmmm..apa?"
"Maukah kamu menikah denganku?"
"Surya,,,kamu serius?"
"Aku amat sangat serius Ria, maukah kamu menikah denganku?"
"Aku mau Surya,,, aku mauu..."
Setelah aku menjawab Surya langsung memakaikan cincin itu di jari manisku.
Hari itu adalah hari yang paling bahagia buatku, tanpa aku sadari jawabanku atas lamaran Surya berdampak yang sangat luar biasa kemudian hari. Selama perjalanan pulang kantor aku tertawa-tawa bahagia sesampai dirumah langsung aku disambut pertanyaan oleh mama
"Ria, tumben kamu pulang kerja senyum-senyum gitu, ada apa?"
"Ria seneeeeenngg banget maa hari ini..."
" Kenapa? Habis dapet bonus ya kak" Adikku Lia menyambar
"Hmmm...ngawurr, bukan donk. Ini lebih menyenangkan daripada dapet bonus"
"Apa sih kak? Jangan bikin penasaran donk"
"Surya maa,,, tadi Surya kasih Ria cincin, Ria dilamar Ma"
"Apaa..!! Surya..?? Surya pacar kamu itu"
"Iya Pa, kenapa? Ada yang salah sama Surya?"
"Papa gak setuju Ria!! Papa gak setuju!!! Surya tidak seagama dengan kita!!!"
Langsung aku tersentak mendengar penolakan dari Papa karena selama aku berhubungan dengan Surya tidak ada penolakan sedikitpun dari Mama dan Papa, tapi kenapa sekarang Papa menolaknya. Dan apa yang harus aku katakan ke Surya tentang penolakan dari Papa. Ya Tuhan,, aku ga tau apa yang harus aku lakukan sekarang.
Hari itu aku lewati malam dengan gelisah, harusnya aku seneng kan malam ini karena akhirnya Surya melamarku dan impianku memakai gaun pengantin dapat terwujud, tapi kenyataan yang aku dapatkan sangat bertolak belakang dengan impianku. Akhirnya pagipun menjelang dan dengan tidak ada semangat aku berangkat ke kantor. Entah apa yang akan terjadi di kantor nanti dengan keadaan moddku yang kacau balau ini. Dan benar pekerjaanku hari ini keteteran, untung bos tidak terlalu perhatian dengan kekacauan kerjaanku. Tiba saat makan siang lagi-lagi Surya menelponku
"Selamat siang ibu yang super duper sibuk, sudah jam makan siang saya siap untuk menjemput ibu untuk makan siang bersama"
Saat aku dengar suara Surya langsung air mataku menetes
"Siang juga asistenku, iya sudah waktunya makan siang, siap untuk menjemputku?"
"Siaapp ibu direktur, saya sudah meluncur tunggu lima menit lagi ya"
"Iya"
Akhirnya kamipun kembali ke tempat makan seperti biasanya. dan dengan berat hati aku katakan apa yang di katakan oleh Papa kemarin.
"Surya,, kemarin aku bilang ke Mama dan Papa kalo kamu melamarku"
"Terus gimana dengan mereka?"
"Papaa.... Papa menolaknya yank, beliau beralasan karena agama kita berbeda" tanpa aku sadari air mataku kembali menetes. Aku melihat Surya sangat kaget dengan kata-kataku dan diapun tak dapat berkata apa-apa lagi. Siang itu kita lewati makan siang dengan suasana hati yang kacau balau tak menentu.
Malam itu aku menemui Mama untuk membicarakan hal ini.
"Ma,, Mama... Ria mau ngomong Ma"
"Eeh kak,, sini duduk sini"
"Ma,, Ria bingung. Kenapa Papa menolak lamaran Surya padahal selama ini Papa gak pernah menolak kedatangan Surya ke rumah dan Papa selalu baik dihadapan Surya, tapi kenapa kemaren Papa malah nolak?"
"Kak, sebenernya kita memang tidak boleh menikah dengan orang yang berbeda dengan keyakinan kita, ini sudah menjadi kesepakatan yang tidak tertulis dalam keluarga kita"
"Tapi Ma,, bukannya sebenarnya agama itu sama aja, toh kita juga sama-sama menyembah dan mengakui Tuhan kan meskipun dengan cara yang berbeda-beda"
"Iya Mama ngerti Kak, tapi tidak semua orang berpandangan seperti itu, contohnya Papamu kan. Kamu yang sabar ya kak, Mama yakin pasti ada jodoh yang tepat dan terbaik untuk kamu nanti dan mungkin itu bukan Surya"
Aku kaget dengan kata-kata Mama barusan, dengan kata lain Mama menginginkan aku untuk memutuskan lamaran Surya. Tuhan aku bingung, sangaat bingung, disatu sisi aku sangat mencintai keluargaku dan aku tidak mau kalau dicap sebagai anak yang durhaka dengan menentang mereka, tapi disisi lain aku juga sangat menyayangi dan mencintai Surya, Tuhan apa yang harus aku lakukan? Disaat kebingunganku tiba-tiba hpku berdering, kulihat sms dari Surya, Ria, besok aq akan ke rumahmu untuk bicara sama Papa dan Mamamu, aq akan yakinin kalo qt bisa bersatu meskipun ada perbedaan diantara qt. Tak sanggup aku membalas sms itu, aku hanya mampu menangis, dan menangis.
Keesokan harinya Surya benar-benar datang ke rumah untuk menemui Mama dan Papa
"Selamat siang Om, Tante"
"Siang, eehh Surya, mari silakan duduk"
"Iya tante, terima kasih"
Aku masih melihat Papa tak bergeming dari surat kabar yang dia baca, sampai tiba-tiba dengan nada yang keras Papa berbicara
"Ada apa kamu kemari Surya? Kalau niat kamu untuk meneruskan lamaran kamu kemarin Om tidak menyetujuinya, tentunya kamu juga sudah tau kan dari Ria kenapa Om tidak menyetujuinya?"
"Maaf Om, Tante kalau kedatangan saya mengganggu Om dan Tante, iya Om saya kesini untuk melanjutkan lamaran saya kemarin. Ria memang sudah menceritakan semuanya Om, dan saya kemari untuk menjelaskan bahwa di agama saya seorang laki-laki boleh menikah dengan wanita yang berbeda agama dengan dia asal...."
"Tidaakk...!!!"
belum sempat Surya meneruskan kata-katanya Papa dengan keras memotong perkataan Surya
"Tidak Surya...!!! Apapun alasan kamu saya tidak pernah menerima dan menyetujui ini semua!!"
Aku pun sudah tidak bisa menahan emosiku sendiri
"Paa,,, kalo Papa tidak menyetujui hubungan Ria dengan Surya kenapa selama ini Papa diam saja, Papa tidak pernah menolak kedatngan Surya tiap Surya datang ke rumah, kenapa Pa...???"
"Ria selama ini Papa menerima Surya hanya sebagai teman dekat kamu, tidak sebagai calon suami kamu, Papa baik dengan dia karena Papa hanya menganggap di tidak lebih sebagai teman dekat kamu!!!"
Aku sudah tidak sanggup berkata apa-apa lagi dengan berurai air mata aku langsung lari keluar rumah meninggalkan mereka semua hingga akhirnya aku sadar Surya mengejarku
"Ria.. Ria tunggu Ria.. kamu mau kemana? Gak baik kayak gini, kamu gak akan menyelesaikan masalah dengan seperti ini"
"Tapi Ya,, akugak sanggup melihat Papa seperti itu, aku gak mau kalo harus meninggalkan ataupun ditinggalkan olehmu"
"Aku ngerti Ria, tapi kamu harus terima kenyataan ini, aku janji selama aku bisa perjuangkan ini semuanya aku akan terus berjuang demi hubungan kita ini. Percaya aku"
Setelah Surya meyakinkan aku akhirnya akupun kembali masuk ke rumah.
"Baiklah Om dan Tante saya permisi dulu, maaf kalo saya sudah mengganggu waktu istirahat Om dan Tante"
"Iya silakan kamu keluar dari rumah saya dan jangan pernah kembali menginjakkan kakimu ke rumah saya lagi"
Dengan nada ketus Papa menjawab pamitan Surya
"Papaaa....!!!!"
Akhirnya Suryapun pamit dengan diiringi air mata dan permintaan maaf dari Mama
"Surya, maafkan kata-kata Papanya Ria ya, mungkin dia masih kaget dan belum bisa menerima ini semua"
"Iya Tante tidak apa-apa. Saya pamit Tante, selamat siang"
"Iya selamat siang"
"Ya.. hati-hati ya"
"Papa jahat...Papa jahat sama Ria!!!!!"
"Ria...!!!! Sampai kapanpun Papa tidak akan pernah bisa menerima orang yang tidak satu agama dengan kita sebagai menantu Papa. Camkan itu baik-baik!!!!"
Akupun berlari ke kamarku dengan isak yang tak terbendung lagi, kenapa ini berat sekali apa aku sanggup melewati ini semua?
Ya aku gak sanggup seperti ini, bagaimana kalo qt lari aja dari semua ini, aku ikhlas kalo harus lari berdua dengan km. Itulah sms kekalutan yang aku kirim untuk Surya. Tak berapa lama akhirnya Surya membalas smsku Ria, sayang.. jgn prnh km bicara spt itu lagi karena aq akan sngat gak setuju dng ide gila kamu itu. mslah itu untuk dihadapi bukan untk ditinggalkan begitu sja
Lama aku pandangi layar hp, tak tahu harus membalas bagaimana lagi hingga akhirnya aku tuliskan Surya, aku akan pndah agama mengikutimu. Yaa,,, akhirnya aku memutuskan untuk pindah agama mengikuti agama Surya tapi sms balasan dari Surya mengejutkanku Ria,, pindah agama bukan masalah yang mudah, km akn menemui kendala2 lg yg mgkn akn lbih berat lg. Ria km tnang aj aq akn sll syng dan cinta km apapun keadaan qt ini. Dan aq akn ttap berusaha dg caraku agr Papa km bs mnerima aq. Dan Ria klo memang qt berjodoh psti Allah akn mempertemukan qt dlm ijab qobul yg sah tnp ad paksaan. Sabar ya syang. Sekrng km bantu doa ya untuk mmbantu ushaku ini semoga Allah mengabulkan semua doa qt. Amiinn
Ya Tuhan begitu lapang hati Surya, dia orang baik Tuhan lancarkan semua niat baiknya ini, mudahkanlah semua ini karena Engkau tau niat yang dia punya itu baik.
Hari-haripun berlalu, tak terasa sudah 2bulan semenjak kejadian itu, dan Papa masih dengan keras hatinya menolak Surya, hingga suatu sore Papa, Mama memanggilku
"Ria, Papa dan Mama akan menjodohkan kamu dengan anak rekan bisnis Papa, dia juga seagama dengan kita. Namanya Adi, dia anak yang baik, mapan juga pekerjaannya"
Kaget aku mendengar kata-kata Papa
"Apa Pa..?? perjodohan?? Gak Pa... Ria gak mau..!! Ria menolak ini semua!!"
"Ria... kamu tidak bisa menolak ini semua karena pertunangan kamu sudah Papa dan Mama persiapkan minggu depan. Ini keputusan Papa, dan kamu harus mengikuti apa keputusan Papa. Mengerti kamu!!"
"Gak Pa... Ria gak mau...!!"
Langsung aku pergi meninggalkan mereka menuju kamarku. Aku langusng menelepon Surya untuk mengatakan hal ini
"Surya... halo.. Ya.. bawa aku lari dari sini Ya, aku gak mau ada disini lagi"
"Loohh.. ada ap syang, tiba-tiba kamu nangis gini?"
"Ya... aku dijodohin sama Papa,, minggu depan aku harus melangsungkan pernikahan, aku gak mau Ya... aku gak mau. Bawa aku pergi dari sini.. cepet Ya,, bawa aku pergi dari sini"
"Ria, aku gak bisa membawa kamu pergi dari rumah kamu, kalo memang Papa dan Mama kamu menginginkan kamu untuk menikah dengan laki-laki lain aku harus mencoba untuk ikhlas. Kalo aku membawa kamu pergi dari rumah keadaannya akan semakin rumit Ria, pasti akan timbul masalah-masalah lain lagi"
"Tapi Surya aku gak mau menikah dengan laki-laki lain. Aku hanya mau menikah dneganmu"
"Aku paham tapi keadaan tidak memungkinkan untuk itu Ria"
" Aku tetap akan menolak perjodohan ini Surya, akan tetap menolak"
Malam itu juga aku putuskan untuk pindah agama mengikuti Surya dan akan menikah dengan atau tanpa restu dari Papa
Keesokan harinya aku pergi menuju masjid untuk melakukan pindah agama, aku sudah menemukan masjid mana tempatku melakukan pembacaan kalimat syahadat karena selama ini aku sudah mencari info dan sudah membicarakan hal ini dengan Ustad masjid tersebut. Selama ini tanpa diketahui oleh Surya aku sudah mempelajari Islam, dan kini saatnya aku memutuskan untuk menjadi seorang muallaf.
"Assalamualaikum pak Ustad"
"Waalaikumsalam, silakan masuk mbak Ria"
"Iya pak"
"Bagaimana mbak Ria apa semua sudah siap? Mbak Ria sudah ikhlas untuk menjadi seorang mualaf?"
"Iya pak Ustad saya sudah ikhlas"
"Baiklah kalu begitu ikuti kata-kata saya ya mbak Ria Asyhadu an-Laa Ilaaha Illallah wa Asyhadu an-na Muhammadarrosuululloh"
" Asyhadu an-Laa Ilaaha Illallah wa Asyhadu an-na Muhammadarrosuululloh"
Dengan terbata-bata dan air mata yang mengalir akhirnya aku berhasil mengucapkan kalimat syahadat tersebut. Dan hari ini aku sidah resmi menjadi seorang mualaf, dan aku berjanji dengan diriku sendiri aku akan menjadi pribadi yang baik, dan akan menjalani hidup sesuai dengan kaidah agama Islam.
Langsung aku sms Surya untuk mengatakan aku sudah resmi jadi mualaf Assalamualaikum Surya, aku mau kasih kamu kabar baik. Ya aku udah resmi jd mualaf sekarang :)
Waalaikumsalam, subhanallah Alhamdulillah bener yg km blg itu Ria? Papa dan Mama km setuju dg ini semua kn?
Mereka gak tau Ya aku jd mualaf, biarkan sj mreka ini kptusanku, kputusan untk msa depanku dan aku merasa tenang setelah aku mnjd seorang mualaf Ya
Akhirnya semua keluargaku mengetahui kalau aku sudah menjadi mualaf dan Papa adalah orang yang paling menentang ini semua, hingga pada akhirnya Papa jatuh sakit dan masuk rumah sakit. Disini keimananku diuji Papa mengatakan aku harus meninggalkan Islamku dan kembali memeluk agama yang sejak lahir telah aku imani, tapi dengan halus aku menolak keinginan Papa. Hingga akhirnya kondisi Papa semakin drop. Hingga suatu hari tiba-tiba Papa memanggilku, beliau ingin bicara empat mata denganku
"Ria,, Papa sadar Papa banyak salah sama kamu, selama ini Papa selalu memaksakan kehendak Papa ke kamu juga Karin, sekarang Papa tidak akan lagi memaksa kehendak Papa ke anak-anak Papa, kejadian yang telah Papa alami selama ini menyadarkan Papa untuk tidak menjadi orang tua yang egois. Ria Papa meyetujui kamu menjadi mualaf asalkan kamu tidak main-main dengan agama yang kamu imani sekarang, dan satu lagi Ria Papa meyetujui hubungan kamu dengan Surya. Papa ikhlas kamu menikah dengan Surya"
Aku tersentak kaget dengan apa yang telah Papa katakan ini tanpa sadar air matakupun menetes
"Papaa,, maafkan Ria Pa.. Selama ini Ria selalu buat Papa sedih, Ria belum bisa jadi anak yang baik untuk Papa dan Mama, Ria selalu membangkang atas semua perkataan Papa, hingga akhirnya Ria membuat keputusan seperti ini, terima kasih Pa, Ria janji Ria tidak akan bermain-main dengan agama Ria ini, Ria ingin menjadi seorang muslimah yang baik Pa. Terima kasih Pa, Papa sudah merestui hubungan Ria dan Surya"
Akhirnya saat itu juga kembali aku rasakan hangatnya pelukan Papa yang sempat hilang dari hidupku. Dan tiba-tibaaku rasakan pelukan Papa makin lama makin mengendur dan akhirnya terlepas, aku kaget setengah mati hingga aku berteriak-teriak memanggil dokter. Setelah dokter memriksa keadaan Papa ternyata Papa telah meninggalkan kita semua. Papa telah berpulang tanpa menyaksikan aku berubah menjadi sosok seorang muslimah dan tanpa menyaksikan acara pernikahanku. Pedih rasanya tapi aku sudah berjanji aku akan menuruti semua keinginan terakhir Papa. Papa.. tenang disana ya Pa.. bahagialah selalu di surga sang Illahi Rabbi.
PurpleGirl, July 13 '14
Saat ini usiaku sudah terhitung masuk dalam usia siap untuk menikah, tapi aku masih belum terlalu memikirkan hal itu, banyak teman-temanku yang telah memiliki keluarga bahkan tak sedikit pula yang telah memiliki anak. Jujur di hati yang paling dalam aku iri dengan mereka karena sampai saat ini aku merasa hubunganku dengan kekasihku jalan ditempat.
Kriiingg.....kriiiingg.... tiba- tiba saja aku dikejutkan dengan bunyi dari Hpku, ternyata yang menelpon adalah Surya kekasihku.
"Halo sayang,, lagi dimana kamu?"
"Iya halo juga sayang aku seperti biasa lagi di depan laptop mengerjakan setumpuk laporan, ada apa yank?"
"Haahh...apaa...jam segini kamu masih berkutat dengan laporan?? Ini sudah waktunya makan siang yank, aku ingin jemput kamu buat makan siang bareng. Lima menit lagi aku sampai, tunggu ya. Byee.."
"Taap..."tuuutt..tuuutt..tuutt.."iiihhh.. kebiasaan deh kamu yank selalu langsung nutup telpon sebelum aku selesai ngomong"
Lima menit kemudian lagi-lagi aku dikejutkan dengan dering dari hpku, dan ini dering sms. Ternyata Surya sudah menungguku di lobi. Bergegas aku turun ke lobi untuk menemui dan makan siang dengannya.
"Iiihhh...kamu bener-bener kebiasaan deh tiap aku belum selesai ngomong telpon udah dimatiin"
"Hehehee...maaf sayang, aku emang sengaja kalo gak langsung aku tutup pasti kamu bakal nolak dan lebih mentingin kerjaan daripada kesehatanmu"
"Hmmm...iyaaa,,iyaaa baweelll. Heran ya aku sama kamu harusnya yang lebih bawel itu cewek tapi malah kamu yang bawel"
"Hahahaa...biar deh"
Akhirnya mobil Surya berhenti di tempat makan kesukaan kami, dan kamipun memesan makanan yang kami inginkan
"Ria, aku ingin mengatakan sesuatu ke kamu"
"Hmmm..apa?"
"Maukah kamu menikah denganku?"
"Surya,,,kamu serius?"
"Aku amat sangat serius Ria, maukah kamu menikah denganku?"
"Aku mau Surya,,, aku mauu..."
Setelah aku menjawab Surya langsung memakaikan cincin itu di jari manisku.
Hari itu adalah hari yang paling bahagia buatku, tanpa aku sadari jawabanku atas lamaran Surya berdampak yang sangat luar biasa kemudian hari. Selama perjalanan pulang kantor aku tertawa-tawa bahagia sesampai dirumah langsung aku disambut pertanyaan oleh mama
"Ria, tumben kamu pulang kerja senyum-senyum gitu, ada apa?"
"Ria seneeeeenngg banget maa hari ini..."
" Kenapa? Habis dapet bonus ya kak" Adikku Lia menyambar
"Hmmm...ngawurr, bukan donk. Ini lebih menyenangkan daripada dapet bonus"
"Apa sih kak? Jangan bikin penasaran donk"
"Surya maa,,, tadi Surya kasih Ria cincin, Ria dilamar Ma"
"Apaa..!! Surya..?? Surya pacar kamu itu"
"Iya Pa, kenapa? Ada yang salah sama Surya?"
"Papa gak setuju Ria!! Papa gak setuju!!! Surya tidak seagama dengan kita!!!"
Langsung aku tersentak mendengar penolakan dari Papa karena selama aku berhubungan dengan Surya tidak ada penolakan sedikitpun dari Mama dan Papa, tapi kenapa sekarang Papa menolaknya. Dan apa yang harus aku katakan ke Surya tentang penolakan dari Papa. Ya Tuhan,, aku ga tau apa yang harus aku lakukan sekarang.
Hari itu aku lewati malam dengan gelisah, harusnya aku seneng kan malam ini karena akhirnya Surya melamarku dan impianku memakai gaun pengantin dapat terwujud, tapi kenyataan yang aku dapatkan sangat bertolak belakang dengan impianku. Akhirnya pagipun menjelang dan dengan tidak ada semangat aku berangkat ke kantor. Entah apa yang akan terjadi di kantor nanti dengan keadaan moddku yang kacau balau ini. Dan benar pekerjaanku hari ini keteteran, untung bos tidak terlalu perhatian dengan kekacauan kerjaanku. Tiba saat makan siang lagi-lagi Surya menelponku
"Selamat siang ibu yang super duper sibuk, sudah jam makan siang saya siap untuk menjemput ibu untuk makan siang bersama"
Saat aku dengar suara Surya langsung air mataku menetes
"Siang juga asistenku, iya sudah waktunya makan siang, siap untuk menjemputku?"
"Siaapp ibu direktur, saya sudah meluncur tunggu lima menit lagi ya"
"Iya"
Akhirnya kamipun kembali ke tempat makan seperti biasanya. dan dengan berat hati aku katakan apa yang di katakan oleh Papa kemarin.
"Surya,, kemarin aku bilang ke Mama dan Papa kalo kamu melamarku"
"Terus gimana dengan mereka?"
"Papaa.... Papa menolaknya yank, beliau beralasan karena agama kita berbeda" tanpa aku sadari air mataku kembali menetes. Aku melihat Surya sangat kaget dengan kata-kataku dan diapun tak dapat berkata apa-apa lagi. Siang itu kita lewati makan siang dengan suasana hati yang kacau balau tak menentu.
Malam itu aku menemui Mama untuk membicarakan hal ini.
"Ma,, Mama... Ria mau ngomong Ma"
"Eeh kak,, sini duduk sini"
"Ma,, Ria bingung. Kenapa Papa menolak lamaran Surya padahal selama ini Papa gak pernah menolak kedatangan Surya ke rumah dan Papa selalu baik dihadapan Surya, tapi kenapa kemaren Papa malah nolak?"
"Kak, sebenernya kita memang tidak boleh menikah dengan orang yang berbeda dengan keyakinan kita, ini sudah menjadi kesepakatan yang tidak tertulis dalam keluarga kita"
"Tapi Ma,, bukannya sebenarnya agama itu sama aja, toh kita juga sama-sama menyembah dan mengakui Tuhan kan meskipun dengan cara yang berbeda-beda"
"Iya Mama ngerti Kak, tapi tidak semua orang berpandangan seperti itu, contohnya Papamu kan. Kamu yang sabar ya kak, Mama yakin pasti ada jodoh yang tepat dan terbaik untuk kamu nanti dan mungkin itu bukan Surya"
Aku kaget dengan kata-kata Mama barusan, dengan kata lain Mama menginginkan aku untuk memutuskan lamaran Surya. Tuhan aku bingung, sangaat bingung, disatu sisi aku sangat mencintai keluargaku dan aku tidak mau kalau dicap sebagai anak yang durhaka dengan menentang mereka, tapi disisi lain aku juga sangat menyayangi dan mencintai Surya, Tuhan apa yang harus aku lakukan? Disaat kebingunganku tiba-tiba hpku berdering, kulihat sms dari Surya, Ria, besok aq akan ke rumahmu untuk bicara sama Papa dan Mamamu, aq akan yakinin kalo qt bisa bersatu meskipun ada perbedaan diantara qt. Tak sanggup aku membalas sms itu, aku hanya mampu menangis, dan menangis.
Keesokan harinya Surya benar-benar datang ke rumah untuk menemui Mama dan Papa
"Selamat siang Om, Tante"
"Siang, eehh Surya, mari silakan duduk"
"Iya tante, terima kasih"
Aku masih melihat Papa tak bergeming dari surat kabar yang dia baca, sampai tiba-tiba dengan nada yang keras Papa berbicara
"Ada apa kamu kemari Surya? Kalau niat kamu untuk meneruskan lamaran kamu kemarin Om tidak menyetujuinya, tentunya kamu juga sudah tau kan dari Ria kenapa Om tidak menyetujuinya?"
"Maaf Om, Tante kalau kedatangan saya mengganggu Om dan Tante, iya Om saya kesini untuk melanjutkan lamaran saya kemarin. Ria memang sudah menceritakan semuanya Om, dan saya kemari untuk menjelaskan bahwa di agama saya seorang laki-laki boleh menikah dengan wanita yang berbeda agama dengan dia asal...."
"Tidaakk...!!!"
belum sempat Surya meneruskan kata-katanya Papa dengan keras memotong perkataan Surya
"Tidak Surya...!!! Apapun alasan kamu saya tidak pernah menerima dan menyetujui ini semua!!"
Aku pun sudah tidak bisa menahan emosiku sendiri
"Paa,,, kalo Papa tidak menyetujui hubungan Ria dengan Surya kenapa selama ini Papa diam saja, Papa tidak pernah menolak kedatngan Surya tiap Surya datang ke rumah, kenapa Pa...???"
"Ria selama ini Papa menerima Surya hanya sebagai teman dekat kamu, tidak sebagai calon suami kamu, Papa baik dengan dia karena Papa hanya menganggap di tidak lebih sebagai teman dekat kamu!!!"
Aku sudah tidak sanggup berkata apa-apa lagi dengan berurai air mata aku langsung lari keluar rumah meninggalkan mereka semua hingga akhirnya aku sadar Surya mengejarku
"Ria.. Ria tunggu Ria.. kamu mau kemana? Gak baik kayak gini, kamu gak akan menyelesaikan masalah dengan seperti ini"
"Tapi Ya,, akugak sanggup melihat Papa seperti itu, aku gak mau kalo harus meninggalkan ataupun ditinggalkan olehmu"
"Aku ngerti Ria, tapi kamu harus terima kenyataan ini, aku janji selama aku bisa perjuangkan ini semuanya aku akan terus berjuang demi hubungan kita ini. Percaya aku"
Setelah Surya meyakinkan aku akhirnya akupun kembali masuk ke rumah.
"Baiklah Om dan Tante saya permisi dulu, maaf kalo saya sudah mengganggu waktu istirahat Om dan Tante"
"Iya silakan kamu keluar dari rumah saya dan jangan pernah kembali menginjakkan kakimu ke rumah saya lagi"
Dengan nada ketus Papa menjawab pamitan Surya
"Papaaa....!!!!"
Akhirnya Suryapun pamit dengan diiringi air mata dan permintaan maaf dari Mama
"Surya, maafkan kata-kata Papanya Ria ya, mungkin dia masih kaget dan belum bisa menerima ini semua"
"Iya Tante tidak apa-apa. Saya pamit Tante, selamat siang"
"Iya selamat siang"
"Ya.. hati-hati ya"
"Papa jahat...Papa jahat sama Ria!!!!!"
"Ria...!!!! Sampai kapanpun Papa tidak akan pernah bisa menerima orang yang tidak satu agama dengan kita sebagai menantu Papa. Camkan itu baik-baik!!!!"
Akupun berlari ke kamarku dengan isak yang tak terbendung lagi, kenapa ini berat sekali apa aku sanggup melewati ini semua?
Ya aku gak sanggup seperti ini, bagaimana kalo qt lari aja dari semua ini, aku ikhlas kalo harus lari berdua dengan km. Itulah sms kekalutan yang aku kirim untuk Surya. Tak berapa lama akhirnya Surya membalas smsku Ria, sayang.. jgn prnh km bicara spt itu lagi karena aq akan sngat gak setuju dng ide gila kamu itu. mslah itu untuk dihadapi bukan untk ditinggalkan begitu sja
Lama aku pandangi layar hp, tak tahu harus membalas bagaimana lagi hingga akhirnya aku tuliskan Surya, aku akan pndah agama mengikutimu. Yaa,,, akhirnya aku memutuskan untuk pindah agama mengikuti agama Surya tapi sms balasan dari Surya mengejutkanku Ria,, pindah agama bukan masalah yang mudah, km akn menemui kendala2 lg yg mgkn akn lbih berat lg. Ria km tnang aj aq akn sll syng dan cinta km apapun keadaan qt ini. Dan aq akn ttap berusaha dg caraku agr Papa km bs mnerima aq. Dan Ria klo memang qt berjodoh psti Allah akn mempertemukan qt dlm ijab qobul yg sah tnp ad paksaan. Sabar ya syang. Sekrng km bantu doa ya untuk mmbantu ushaku ini semoga Allah mengabulkan semua doa qt. Amiinn
Ya Tuhan begitu lapang hati Surya, dia orang baik Tuhan lancarkan semua niat baiknya ini, mudahkanlah semua ini karena Engkau tau niat yang dia punya itu baik.
Hari-haripun berlalu, tak terasa sudah 2bulan semenjak kejadian itu, dan Papa masih dengan keras hatinya menolak Surya, hingga suatu sore Papa, Mama memanggilku
"Ria, Papa dan Mama akan menjodohkan kamu dengan anak rekan bisnis Papa, dia juga seagama dengan kita. Namanya Adi, dia anak yang baik, mapan juga pekerjaannya"
Kaget aku mendengar kata-kata Papa
"Apa Pa..?? perjodohan?? Gak Pa... Ria gak mau..!! Ria menolak ini semua!!"
"Ria... kamu tidak bisa menolak ini semua karena pertunangan kamu sudah Papa dan Mama persiapkan minggu depan. Ini keputusan Papa, dan kamu harus mengikuti apa keputusan Papa. Mengerti kamu!!"
"Gak Pa... Ria gak mau...!!"
Langsung aku pergi meninggalkan mereka menuju kamarku. Aku langusng menelepon Surya untuk mengatakan hal ini
"Surya... halo.. Ya.. bawa aku lari dari sini Ya, aku gak mau ada disini lagi"
"Loohh.. ada ap syang, tiba-tiba kamu nangis gini?"
"Ya... aku dijodohin sama Papa,, minggu depan aku harus melangsungkan pernikahan, aku gak mau Ya... aku gak mau. Bawa aku pergi dari sini.. cepet Ya,, bawa aku pergi dari sini"
"Ria, aku gak bisa membawa kamu pergi dari rumah kamu, kalo memang Papa dan Mama kamu menginginkan kamu untuk menikah dengan laki-laki lain aku harus mencoba untuk ikhlas. Kalo aku membawa kamu pergi dari rumah keadaannya akan semakin rumit Ria, pasti akan timbul masalah-masalah lain lagi"
"Tapi Surya aku gak mau menikah dengan laki-laki lain. Aku hanya mau menikah dneganmu"
"Aku paham tapi keadaan tidak memungkinkan untuk itu Ria"
" Aku tetap akan menolak perjodohan ini Surya, akan tetap menolak"
Malam itu juga aku putuskan untuk pindah agama mengikuti Surya dan akan menikah dengan atau tanpa restu dari Papa
Keesokan harinya aku pergi menuju masjid untuk melakukan pindah agama, aku sudah menemukan masjid mana tempatku melakukan pembacaan kalimat syahadat karena selama ini aku sudah mencari info dan sudah membicarakan hal ini dengan Ustad masjid tersebut. Selama ini tanpa diketahui oleh Surya aku sudah mempelajari Islam, dan kini saatnya aku memutuskan untuk menjadi seorang muallaf.
"Assalamualaikum pak Ustad"
"Waalaikumsalam, silakan masuk mbak Ria"
"Iya pak"
"Bagaimana mbak Ria apa semua sudah siap? Mbak Ria sudah ikhlas untuk menjadi seorang mualaf?"
"Iya pak Ustad saya sudah ikhlas"
"Baiklah kalu begitu ikuti kata-kata saya ya mbak Ria Asyhadu an-Laa Ilaaha Illallah wa Asyhadu an-na Muhammadarrosuululloh"
" Asyhadu an-Laa Ilaaha Illallah wa Asyhadu an-na Muhammadarrosuululloh"
Dengan terbata-bata dan air mata yang mengalir akhirnya aku berhasil mengucapkan kalimat syahadat tersebut. Dan hari ini aku sidah resmi menjadi seorang mualaf, dan aku berjanji dengan diriku sendiri aku akan menjadi pribadi yang baik, dan akan menjalani hidup sesuai dengan kaidah agama Islam.
Langsung aku sms Surya untuk mengatakan aku sudah resmi jadi mualaf Assalamualaikum Surya, aku mau kasih kamu kabar baik. Ya aku udah resmi jd mualaf sekarang :)
Waalaikumsalam, subhanallah Alhamdulillah bener yg km blg itu Ria? Papa dan Mama km setuju dg ini semua kn?
Mereka gak tau Ya aku jd mualaf, biarkan sj mreka ini kptusanku, kputusan untk msa depanku dan aku merasa tenang setelah aku mnjd seorang mualaf Ya
Akhirnya semua keluargaku mengetahui kalau aku sudah menjadi mualaf dan Papa adalah orang yang paling menentang ini semua, hingga pada akhirnya Papa jatuh sakit dan masuk rumah sakit. Disini keimananku diuji Papa mengatakan aku harus meninggalkan Islamku dan kembali memeluk agama yang sejak lahir telah aku imani, tapi dengan halus aku menolak keinginan Papa. Hingga akhirnya kondisi Papa semakin drop. Hingga suatu hari tiba-tiba Papa memanggilku, beliau ingin bicara empat mata denganku
"Ria,, Papa sadar Papa banyak salah sama kamu, selama ini Papa selalu memaksakan kehendak Papa ke kamu juga Karin, sekarang Papa tidak akan lagi memaksa kehendak Papa ke anak-anak Papa, kejadian yang telah Papa alami selama ini menyadarkan Papa untuk tidak menjadi orang tua yang egois. Ria Papa meyetujui kamu menjadi mualaf asalkan kamu tidak main-main dengan agama yang kamu imani sekarang, dan satu lagi Ria Papa meyetujui hubungan kamu dengan Surya. Papa ikhlas kamu menikah dengan Surya"
Aku tersentak kaget dengan apa yang telah Papa katakan ini tanpa sadar air matakupun menetes
"Papaa,, maafkan Ria Pa.. Selama ini Ria selalu buat Papa sedih, Ria belum bisa jadi anak yang baik untuk Papa dan Mama, Ria selalu membangkang atas semua perkataan Papa, hingga akhirnya Ria membuat keputusan seperti ini, terima kasih Pa, Ria janji Ria tidak akan bermain-main dengan agama Ria ini, Ria ingin menjadi seorang muslimah yang baik Pa. Terima kasih Pa, Papa sudah merestui hubungan Ria dan Surya"
Akhirnya saat itu juga kembali aku rasakan hangatnya pelukan Papa yang sempat hilang dari hidupku. Dan tiba-tibaaku rasakan pelukan Papa makin lama makin mengendur dan akhirnya terlepas, aku kaget setengah mati hingga aku berteriak-teriak memanggil dokter. Setelah dokter memriksa keadaan Papa ternyata Papa telah meninggalkan kita semua. Papa telah berpulang tanpa menyaksikan aku berubah menjadi sosok seorang muslimah dan tanpa menyaksikan acara pernikahanku. Pedih rasanya tapi aku sudah berjanji aku akan menuruti semua keinginan terakhir Papa. Papa.. tenang disana ya Pa.. bahagialah selalu di surga sang Illahi Rabbi.
PurpleGirl, July 13 '14
Jumat, 11 Juli 2014
Sebuah Cerita : Aku bukan siti nurbaya
Namaku Andyn, aku saat ini masih tercatat sebagai seorang mahasiswa di perguruan tinggi swasta di kota sebelah. Sebagai seorang mahasiswi aku selalu disibukkan dengan tugas dari dosen apalagi sekarang aku sudah masuk semester terakhir. Skripsi...yaaa skripsi hari-hariku dipenuhi oleh mengerjakan skripsi, tiap jam, menit, detik hanya skripsi yang menemaniku. Pacar,,,kemana pacarku?? Dia ada tapi dia berada di kota asalku. Kami sudah menjalin hubungan selama empat tahun, namun selama itu tak kunjung aku peroleh restu dari orang tuaku. Orang tuaku selalu mengatakan carilah calon suami yang baik, baik akhlak serta baik pula pekerjaannya. Memang pacarku hanyalah seorang pegawai freelance biasa namun dia memiliki akhlak yang baik serta kepribadian yang baik pula.
Selama aku kuliah, ibuku terus saja menanyakan mana kekasihku? tapi saat aku selalu bilang kalau Ridho lah kekasihku ibu selalu menolaknya. Sempat terfikir olehku untuk mengakhiri hubunganku dengan Ridho, karena aku capek terus-terusan hidup dalam hubungan yang entah bagaimana akhirnya. Namun Ridho selalu mengatakan kalau dia mampu menjadi apa yang diinginkan oleh orang tuaku.
Aku percaya Ridho mampu, karena selama aku bersamanya dia selalu memberikan yang terbaik untuk hubungan ini. Kadang aku iri saat melihat teman-temanku yang hubungannya direstui oleh orang tua, kenapa mereka bisa sedangkan aku tidak bisa?? Ada satu sahabatku yang selalu memberiku motivasi untuk terus melanjutkan hubunganku dengan Ridho tanpa harus melihat orang tuaku,
"Udahlah Ndyn kamu terusin aja hubungan kamu sama Ridho, hubungan kalian udah lumayan lama sayang kan kalo harus putus di tengah jalan, lagian pasti tar ortu kamu bakal capek dengan sendirinya dan kasih restu ke hubungan kalian".
Saat itu aku coba buat ikutin saran dari Hani sahabatku untuk tetap melanjutkan hubungan ini. Disisi lain Ridhopun terus memberi aku semangat untuk terus melanjutkan hubungan ini.
Pikiranku bercabang, antara skripsi dan kelanjutan hubungan ini, hingga pada akhirnya fisikku yang drop. Siang itu saat semua teman-temanku sibuk menemui dosen pembimbing, akupun juga ada bersama mereka tapi entah kenapa tiba-tiba kepalaku berputar-putar dan tanpa aku sadari menetes darah dari hidung. Saat itu ada Hani disampingku, dia kaget melihat kondisiku, aku yang terus menahan sakitnya kepalaku tiba-tiba ambruk tak sadarkan diri. Langsung teman-teman yang lain membopongku ke ruang kesehatan untuk diperiksa, untung saja dokter jaga di ruang kesehatan masih ada. Saat aku sadar dokter sudah berbincang dengan Hani dan terdengar samar sang dokter mengatakan aku harus segera melakukan cek lab dan segera dibawa ke rumah sakit.
"Hani saya rasa Andyn harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang lebih memadai lagi karena kalo cuma diperiksa disini masih belum maksimal"
"Apa kondisi Andyn parah dok? soalnya saya takut ada apa-apa sama Andyn karena selama saya bersama dia saya tidak pernah melihat dia kesakitan".
"Maka dari itu lebih cepat Andyn dibawa ke rumah sakit lebih baik, soalnya saya curiga dari tanda-tandanya dia mengidap leukemia".
Bagai petir di siang hari,,leukemia....penyakit leukemia????separah inikah kondisiku?? Ya Tuhan,,cobaan apa lagi ini??
Setelah ngobrol dengan dokter Widi Hani menghampiriku,
"Ndyn, kamu udah sadar?? Kamu udah denger penjelasan dari dokter Widi tadi?"
"Iya Han, aku udah denger semuanya, apa separah ini kondisiku Han?apa bener aku kena leukemia?
"Aku juga belum tau Ndyn, lebih baik besok aku temenin kamu ke rumah sakit ya, biar lebih jelasnya gimana."
"Tapi aku takut Han, aku takut kalo emang bener aku kena leukemia"
"Udahlah Ndyn kita kan belum tau yang sebenere jadi g usah takut gitu, aku janji aku bakal selalu nemenin kamu."
"Makasih ya Han kamu emang sahabat terbaikku."
Keesokan harinya aku ditemani oleh Hani menuju rumah sakit, disana aku menjalani rangkaian tes. Di rumah sakit itu aku menemui dokter Aldi
"Andyn,hasil lab kamu masih belum bisa jadi hari ini, kemungkinan besok udah jadi. Kamu bisa ambil ke rumah sakit lagi, dan ini aku berikanka kamu resep."
"Iya dok, besok aku akan datang lagi untuk ambil hasil labku. Makasih ya dok."
"Iya Ndyn, lekas sembuh ya."
"Iya dok."
"Andyyyyynnn,,,,,wooooyyy....banguuuunnnn....gak ke kampuz kamu?? mank gak ada jadwal bimbingan?"
"Aaaahh...beriiissiiikk kamu Han,,aku gak ada jadwal bimbingan kok hari ini tapi ada jadwal ketemu dokter cakep...hihiihihii"
"Haaahh....dokter cakep??siapaaa??dokter Aldy ya??"
"Yuuppzzz...tar aku mau ambil hasil lab Han, temenin lagi ya..eh ya aku harap kamu jangan kasih tau Ridho ya soal aku kemaren."
"Ok dh aku temenin, siiiaaapp,,aku gak bakal bilang ke ridho kok Ndyn."
"Siippp...aku mandi dulu deh Han, bentar ya."
Hari itu dengan ditemenin Hani aku pergi ke rumah sakit lagi, deg-degan dan takut yang aku rasain. Sampai akhirnya aku sampai di ruangan dokter Aldy, ternyata dokter Aldy sudah menungguku.
"Siang dok, maaf dok datengnya siang"
"Siang juga Ndyn, iya gak papa kok. Oh ya ini hasil dari lab kamu kemaren. Kamu yang kuat ya."
Dengan tangan yang gemetar aku buka amplop coklat itu. Dan.....benar apa yang dikatakan dokter Widi, aku terkena leukemia.
"Dok, ini...ini gak salah dok? Ini hasil labku kemaren dok? Gak dok, ini gak bener kan? Ini bukan hasil labku kan dok? Pasti ini salah kan dok?"
Akupun menangis sejadinya di ruang dokter Aldy. Dan Hanipun ikut melihat hasil lab itu.
"Kamu yang sabar ya Ndyn, memang itulah hasil lab kamu kemaren,leukemia kamu udah stadium tiga,dan kamu kalo ingin sembuh kamu harus operasi."
Tanpa dikomando lagi, akupun lansung keluar dari ruangan dokter Aldy. Sampai diluar rumah sakit Hani mengehentikan langkahku.
"Ndyn, sabar ya ini cobaan, kamu harus kuat. Kamu gak sendiri Ndyn, ada aku yang bakal selalu nemenin kamu."
"Aku gak nyangka Han, kenapa harus aku? Kenapa bukan orang lain yang megalami ini? Ya Tuhan,,leukemia Han,,,leukemia,,setau aku ini bukan penyakit yang enteng."
"Aku ngerti gimana perasaan kamu Ndyn, tapi ini realita, ini fakta yang harus kamu hadapi. Yaudah sekarang kita pulang aja yuk, istirahat. Kamu gak boleh terlalu capek."
Akupun pulang ke kos bareng Hani, sesampai di kos lagsung aku tumpahkan semuanya.
Berminggu-minggu lamanya aku berdiam diri di kamar kos, sampai suatu ketika Ridho datang ke kosku karena aku pun juga telah lama mengabaikan dia.
"Sayang, kamu kemana aja? Sebenere apa yang kamu sembunyikan dari aku?"
Aku tak mampu menjawab pertanyaan dari Ridho, hanya air mata yang menjawab semua pertanyaannya.
"Aku gak papa kok yank, aku cuma lagi gak enak badan aja, biasa kan harus ngurusin skripsi tiap hari."
"Bener kamu gak papa? Ini aku bawain coklat kesukaan kamu."
" Makasih yank,iya bener aku gak papa kok."
Akhirnya seharian itu aku ditemani Ridho dan Hani di kos. Sampai akhirnya Ridho pamit untuk pulang.
"Sayang aku pulang dulu ya. Kamu cepet sembuh ya, tar kalo kamu udah sembuh aku bakal ajak kamu kemanapun kamu mau."
"Iya sayang doain aku bisa cepet sembuh ya."
"Kamu pasti sembuh yank, apapun sakit kamu aku yakin kamu pasti sembuh."
"Iya sayang, makasih doanya ya. Kamu ati-ati ya, tar nyampe rumah langsung kasih kabar aku ya."
"Iya sayang, pasti. aku pulang dulu ya."
Hari-haripun berganti dengan cepat, kondisikupun semakin membaik, membaik karena aku selalu konsumsi obat-obat itu. Sampai pada akhirnya sidang skripsipun telah aku lewati, dan tidak terasa besok adalah hari yang paling aku tunggu-tunggu selama empat tahun kuliah. Besok wisuda...yaaa,, wisuda. Hari ini kedua orang tua serta adik-adikku datang ke kota ini.
Hari H-pun telah usai, semarak wisuda telah rampung. Aku dan kedua orang tua serta adik-adikku kembali ke kos. Tapi ini justru merupakan awal dari semuanya.
"Ndyn, umur kamu sudah dewasa, ayah dan ibu sudah berpikir untuk mencarikan kamu calon pendamping hidup kamu."
"Maksudnya bu? Mencarikan gimana? Kan Andyn udah punya pacar bu."
"Andyn pacar kamu itu apa bisa mencukupi kehidupan kamu nantinya? Apa pekerjaan pacar kamu? Gak jelas kn? Ibu sama Ayah udah memutuskan kamu harus menikah denga anak dari teman kita, anaknya baik, sholeh, pintar dan yang pasti jelas asal usulnya."
Remuk hatiku mendengar kata-kata ibu, sampai seigitunya ibu menilai Ridho, seburuk itukah Ridho dimata ibu? Setidak pantas itukah Ridho untuk menjadi anggota keluarga ini?
Akupun kembali ke kota kelahiranku, dan suatu hari ibu mempersiapkan berbagai macam masakan dan makanan
"Bu, tumben ibu masak segini banyaknya, untuk apa bu?"
"Nanti ada tamupenting Ndyn, udah sana kamu siap-siap dulu."
"Kok Andyn disuruh siap-siap sih bu? memangnya siapa sih tamu penting itu?"
"Udah sana kamu siap-siap dulu Ndyn, jangan lupa pake baju yang pantas."
"Iiiihh...ibu aneh dh,,iya sh Andyn siap-siap dulu."
Malam tepat jam tujuh tamu penting itupun datang, aku pun ikut menyalami mereka satu persatu. Dan tiba pada sosok itu, aku merasa tidak asing dengan sosok itu. Lama kami saling berpandangan danakhirnya akupun ingat siapa sosok itu. Yaa...dia adalah dokter Aldy, dokter yang menangani penyakitku, untuk apa dokter Aldy kesini?
Pada akhirnya aku paham untuk apa dokter Aldy datang, yaa...dokter Aldy inilah yang akan dijodohkan orang tuaku denganku. Ya Tuhan,,,,apalagi ini? Selama pertemuan ini aku lebih banyak diam, dokter Aldy pun begitu hingga pada akhirnya ibu menyuruh aku untuk ngobrol berdua dengan dokter Aldy.
"Gimana kabarmu Ndyn? Aku denger kamu udah wisuda ya kemaren?"
"Kabarku ya gini-gini aja dok, kadang masih sering mimisan."
"Obatnya gak pernah telat minum kan?"
"Gak kok dok, cuma kalo lagi banyak pikiran dan banyak kegiatan aku sering pusing dan akhirnya mimisan itu."
"Kalo gitu jangan sering-sering banyak pikiran donk Ndyn, hehehee"
"Iya dok."
Hanya itu yang bisa aku balas dari lelucon yang dilontarkan dokter Aldy.
"Sebenere aku gak tau siapa yang akan orang tuaku kenalkan ke aku, kemaren saat aku pulang orang tuaku cuma bilang kalo aku akan dikenalin dengan seorang anak teman mereka."
"Ooo...sama dok aku juga gak tau kalo yang akan dikenalkan itu dokter."
"Jangan panggil dok lah Ndyn, panggil aja Aldy."
"Iya Aldy. Kamu udah tau apa maksud orang tua kita mengenalkan kita ini?"
"Iya,,aku tau Ndyn, mereka ingin kita menikah"
"Tapi kan kita baru kenal, mana mungkin kita menikah, apa kamu setuju dengan perjodohan ini Al?"
"Sebenernya aku kurang setuju dnegan adanya perjodohan tapi aku gak mau mengecewakan kedua orang tuaku Ndyn, mereka menaruh harapan besar untukku, yaa kamu tau kan aku adalah anak pertama, jadi mereka juga inginkan yang terbaik untukku."
"Tapi Al, kamu juga tau sendiri kan, aku penyakitan, umurku gak panjang apa gak malah menambah beban kamu kelak?"
"Sakit pasti ada obatnya Ndyn, dan kalo memang kita berjodoh aku ikhlas kok terima kamu dengan segala kondisi kamu saat ini."
"Apa bener itu semua Al?"
"Iya Ndyn, tapi kalo kita belum ada jodoh aku harap kita tidak akan jadi musuh, aku harap kita akan bisa tetep jadi saudara."
Lama kami berbincang dan akhirnya dia dan keluaganya pun pamit pulang.
Akupun menceritakan hal ini ke Hani, Hani sangat kaget mendengar cerita ini.
"Gilaa....dokter Aldy Ndyn? dokter Aldy dokter kamu itu kan?"
"Iya Han,, aku bingung. Jujur disatu sisi aku gak mau kecewain kedua orang tuaku, tapi disisi lain aku juga gak mau kecewain Ridho, kamu tau sendiri kan gimana lamanya hubunganku dengan Ridho."
"Iya Ndyn aku ngerti, ternyata orang tua kamu bener-bener gak bisa terima Ridho. Ndyn apa kamu sanggup ngomong hal ini ke Ridho? kalo sebenere kamu udah di jodohin?"
"Sebenere itu yang aku pikirin selama ini Han, aku mikir aku akan ngomong ini semua ke Ridho, aku nyerah Han, aku nyerah."
"Andyn, kalo mank kalian bisa pertahanin hubungan kalian ini kenapa kamu nyerah?"
"Aku nyerah Han, aku udah gak bisa terusin hubunganku dengan Ridho terlalu rumit semua ini."
"Kalo mank itu keputusan kamu, aku bakal dukung Ndyn, kamu yang sabar ya, yakin ada hikmah dan kebahagiaan di balik ini semua."
Malam itu setelah aku telfon Hani tiba-tiba saja kepalaku pusing lagi. Tapi yang aku rasa ini lebih pusing dari biasanya dan akhirnya darah segar pun menetes dari hidungku. Ya Tuhan kenapa jadi seperti ini? Lebih baik aku Kau panggil sekarang, aku ikhlas Tuhan. Tanpa sadar aku pun tertidur dengan masih berbalut seprei yang terkena darah. Pagi-pagi aku kaget karena tiba-tiba aku dengar ibu sudah berteriak-teriak di depan kamarku.
"Andyynn.....ayoo banguun...udah siang Ndyynn..!!!"
"Iya ibu..Andyn udah bangun."
"Sarapan dulu Ndyn.. Eh ya tar siang Aldy mau ke rumah, kamu harus siap-siap ya"
Haduuhh...kenapa lagi sih anak itu dateng kerumah padahal hari ini aku mau nemuin Ridho
"Iya buu.."
Akhirnya akupun dengan badan yang masih lemas turun ke bawah untuk sarapan bersama,
"Ndyn tar Aldy mau ke rumah looh, kamu siap-siap ya"
"Iya bu, tadi kan ibu udah bilang kan"
Akhirnya siang itu pun Aldy datang ke rumah.
"Kamu kok keliatan pucet sih Ndyn? Pusing lagi? Atau jangan-jangan mimisan lagi?"
"Iya semalem aku pusing lagi Al sama mimisan lagi"
"Ya Tuhan,, banyak mimisanmu?"
"Ya lumayan sih Al pusing semalem juga gak kayak biasanya, berasa sakit banget semalem"
"Ndyn kamu harus periksa lagi, besok aku anter kamu periksa lagi ya. Aku takut kanker kamu makin parah"
"Memangnya kenapa kalo makin parah Al, bukannya lebih bagus ya jadi kan kamu gak akan repot-repot ngurusi orang yang penyakitan kayak aku ini"
"Kamu kok ngomong sinis gitu sih Ndyn? Salah kalo aku perhatian dengan calon istriku sendiri?"
Apa...calon istri?? Jadi Aldy udah bener-bener anggep aku calon istrinya??
"Tapi Al besok aku masih harus nemuin temen dulu"
"Aku anter kamu Ndyn"
"Gak usah Al,aku bisa sendiri kok, kalo aku butuh bantuan kamu aku bakal telpon kamu"
"Iya udah kalo mank tu maunya kamu, tapi bener ya besok kamu langsung telpon aku kalo kamu butuh apa-apa"
"Iya Al"
Malam harinya aku putuskan untuk menghubungi Ridho
"Sayang, besok kita ktemuan ya, ada hal penting yang harus kita bicarakan"
"Iya sayang aku jemput kamu dimana?"
"Gak usah jemput yank, besok aku naik taksi aja, besok kamu tunggu aku di tempat biasa ya jam 10 pagi ya yank"
"Ok sayang, beneran besok gak aku jemput?"
"Iya gak usah kamu jemput"
Akhirnya aku pun ketemu dengan Ridho, mungkin ini pertemuanku yang terakhir dengannya
"Sayang, aku minta maaf ya sama kamu, selama ini aku udah banyak salah sama kamu"
"Kok minta maaf sih? kamu gak ada salah apa-apa kok"
"Sayang,, aku...aku.. dijodohin sama orang tua aku. Dan aku gak bisa nolak yank."
"Apaa...kamu beneran ini?? Kamu becanda kan yank? Ini gak beneran kan??"
"Ini beneran yank, dan aku gak bisa nolak semuanya karena ternyata mereka udah memilih hari untuk pernikahanku. Maafin aku yank..maafin aku, aku gak bisa pertahanin dan perjuangin hubungan kita ini"
Tak sangggup aku tahan semua air mata ini, saat itu aku lihat pula dia menangis. Laki-laki yang aku lihat paling tegar akhirnya aku melihatnya runtuh.
"Baiklah yank kalo memang itu udah keputusan dari orang tua kamu aku bisa apa?Aku hanya manusia kecil yang tak ubahnya seperti debu yang dengan mudah mereka singkirkan"
"Stop Ridho!!! Apa kamu gak tau kalo aku juga terluka? Aku juga tersiksa dengan keadaan ini!!"
Akhirnya untuk terakhir kalinya aku merasakan pelukan Ridho, untuk terakhir kalinya...yaa terakhir kalinya.
Akhirnya akupun pulang, tapi disaat aku belum mendapatkan taksi Aldy menelponku
"Ndyn kamu dimana?? Kamu gak papa kan??"
Aneh,,kenapa tiba-tiba dia bertanya seperti ini?
"Aku di jalan Al, aku mau pulang tapi kepalaku pusing banget"
"Kamu dimana sekarang? Tunggu di situ aku bakal jemput kamu"
"Aku ada di cafe rain Al, iya aku tunggu"
"Ya udah kebetulan aku di daerah deket situ, tunggu aku Ndyn kamu jangan kemana-mana"
"Iya Al iya,,"
Selang lima belas menit setelah Aldy telpon dia sudah ada di depanku yang sedang menahan tangis dan sakit.
"Ayo kita ke rumah sakit Ndyn"
"Gak Al, aku mau pulang aja"
Tanpa sadar setelah mengucapkan kata-kata itu aku langsung pingsan
Setelah sadar aku sudah berada di rumah sakit, disana sudah ada ibu yang menangis dan ayah yang menahan tangisnya.
"Ibu,,ayah kenapa nangis? Andyn gak papa kok bu"
"Andyn kenapa kamu gak bilang sama ibu sama ayah kalo sebenernya kamu sakit nak? Kenapa???"
"Andyn gak sakit bu, Andyn baik-baik saja"
"Gak usah bohong Ndyn, Aldy udah cerita semua, kalo sebenernya kamu adalah pasiennya"
Ternyata penyakitku sudah semakin parah, dan dokterpun sudah mengatakan penyakitku sudah masuk stadium empat, itu tandanya aku sudah masuk dalam stadium yang terakhir. Tuhan..apa aku harus kembali padaMu? Ampuni dosa-dosaku Tuhan..Kuatkan selalu aku untuk hadapi semua ini.
Setelah kejadian itu hari-hariku di sibukkan dengan kemoterapi dan minum obat-obatan. Aldy selalu menemaniku di saat-saat sulitku, dia dengan sabar selalu menguatkan aku yang hampir rapuh. Benar kata ibu, dia orang yang baik, dia orang yang perhatian. Sampai akhirnya suatu hari dia mengatakan sesuatu
"Ndyn,, maukah kamu menikah denganku?"
Aku hanya mampu menatapnya tanpa mampu menjawab apa-apa saat dia mengeluarkan cincin itu dari tempatnya.
"Al apa kamu gak salah? Aku penyakitan Al dan umur aku gak panjag lagi. Lebih baik kamu cari perempuan sehat lainnya, yang bisa menemani dan menjagamu"
"Ndyn aku gak peduli dengan kondisi kamu saat ini, aku udah menyayangi kamu Ndyn setelah kita ketemu pertama kali, mungkin ini konyol tapi memang inilah yang aku rasain. Andyn putri darmawan sekali lagi aku katakan maukah kamu menikah denganku?"
Aku tak mampu berkata apa-apa lagi, dan tanpa aku sadari aku anggukkan kepalaku, dan dia langsung memakaikan cincin itu di jari manisku yang telah mengurus.
"Hehheee...cincinnya kegedean Al, hmmm...tapi cincinnya yang kegedean atau jariku ya yang mengecil...hehheee..."
"Hehheee..iya ni,halaah gampang tar kita pesen cincin yang ukurannya pas dengan jarimu"
"Al, makasih ya udah mau ngelamar aku yang kayak gini"
"Udah Ndyn kamu gak usah ngomong aneh-aneh aah...yang pasti sekarang aku udah resmi ngelamar kamu"
Setelah lamaran Aldy itu kondisiku semakin drop dan semakin drop. Aku capek Tuhan jika terus hidup seperti ini, hidup bergantung dengan obat-obatan. Aku ingin hidup normal lagi seperti dulu, aku ingin bisa tertawa lagi, aku ingin bisa tersenyum lagi becanda dengan teman-teman dan pergi keluar bareng-bareng. Kapan aku bisa seperti itu lagi Tuhan?? Kapan...???
Malam itu entah apa yang terjadi tapi yang jelas sebelum acara pertunangan itu selesai aku merasakan hal yang teramat sakit luar biasa. Lebih sakit dari biasanya, aku tidak sanggup untuk menahannya akhirnya aku pun pingsan. Saat aku berada dalam keadaan yang tidak sadar aku merasa ada di tempat yang indah, sejuk, dan disana aku bertemu dengan eyang putri. Eyang putri memanggilku.
"Andyn,, cucu eyang yang baik sini nak"
"Eyang,,Andyn ada dimana ini? Kok ada eyang disini?"
"Andyn ini kan yang kamu inginkan? Berada di tempat yang nyaman, indah, sejuk dan tanpa ada rasa sakit lagi?"
"Iya eyang,, ini yang Andyn mau.. Uuumm,,eyang Andyn boleh tinggal disini?"
"Iya Andyn kamu boleh tinggal disini, memang sekarang inilah rumahmu, tapi Andyn kamu harus pamitan dulu sam ayah dan ibumu. Kasian mereka kalo kamu tiba-tiba ilang dan tidak pamit"
"Iya eyang Andyn mau pamit dulu ya"
Ternyata aku sudah koma selama seminggu, saat aku sadar semua orang yang aku sayangi berada di sekelilingku. Mereka menangis sesenggukan apalagi ibu, aku lihat wajah ibu sudah sangat lelah. Saat mereka melihatku sadar senyum yang pertama mereka berikan. Ibu langsung memelukku dan ayah langsung meneteskan air mata, Aldy pun ada di sana. Aku tak sanggup berkata apa-apa lagi karena sudah terlalu sakit yang aku rasakan, aku meminta ayah untuk memberikanku pensil dan dengan susah payah aku dapat menulis satu kalimat
"Ayah, Ibu, Aldy maafin Andyn. Andyn capek,,Andyn ingin istirahat, Andyn ingin tidur"
Setelah menulis itu dan mendapat persetujuan dari mereka aku pun istirahat, aku pun tertidur dan kembali saat aku bangun aku melihat eyang telah menjemputku. Eyang telah membuka pelukannya untukku.
PurpleGirl, July 11 '14
Selama aku kuliah, ibuku terus saja menanyakan mana kekasihku? tapi saat aku selalu bilang kalau Ridho lah kekasihku ibu selalu menolaknya. Sempat terfikir olehku untuk mengakhiri hubunganku dengan Ridho, karena aku capek terus-terusan hidup dalam hubungan yang entah bagaimana akhirnya. Namun Ridho selalu mengatakan kalau dia mampu menjadi apa yang diinginkan oleh orang tuaku.
Aku percaya Ridho mampu, karena selama aku bersamanya dia selalu memberikan yang terbaik untuk hubungan ini. Kadang aku iri saat melihat teman-temanku yang hubungannya direstui oleh orang tua, kenapa mereka bisa sedangkan aku tidak bisa?? Ada satu sahabatku yang selalu memberiku motivasi untuk terus melanjutkan hubunganku dengan Ridho tanpa harus melihat orang tuaku,
"Udahlah Ndyn kamu terusin aja hubungan kamu sama Ridho, hubungan kalian udah lumayan lama sayang kan kalo harus putus di tengah jalan, lagian pasti tar ortu kamu bakal capek dengan sendirinya dan kasih restu ke hubungan kalian".
Saat itu aku coba buat ikutin saran dari Hani sahabatku untuk tetap melanjutkan hubungan ini. Disisi lain Ridhopun terus memberi aku semangat untuk terus melanjutkan hubungan ini.
Pikiranku bercabang, antara skripsi dan kelanjutan hubungan ini, hingga pada akhirnya fisikku yang drop. Siang itu saat semua teman-temanku sibuk menemui dosen pembimbing, akupun juga ada bersama mereka tapi entah kenapa tiba-tiba kepalaku berputar-putar dan tanpa aku sadari menetes darah dari hidung. Saat itu ada Hani disampingku, dia kaget melihat kondisiku, aku yang terus menahan sakitnya kepalaku tiba-tiba ambruk tak sadarkan diri. Langsung teman-teman yang lain membopongku ke ruang kesehatan untuk diperiksa, untung saja dokter jaga di ruang kesehatan masih ada. Saat aku sadar dokter sudah berbincang dengan Hani dan terdengar samar sang dokter mengatakan aku harus segera melakukan cek lab dan segera dibawa ke rumah sakit.
"Hani saya rasa Andyn harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang lebih memadai lagi karena kalo cuma diperiksa disini masih belum maksimal"
"Apa kondisi Andyn parah dok? soalnya saya takut ada apa-apa sama Andyn karena selama saya bersama dia saya tidak pernah melihat dia kesakitan".
"Maka dari itu lebih cepat Andyn dibawa ke rumah sakit lebih baik, soalnya saya curiga dari tanda-tandanya dia mengidap leukemia".
Bagai petir di siang hari,,leukemia....penyakit leukemia????separah inikah kondisiku?? Ya Tuhan,,cobaan apa lagi ini??
Setelah ngobrol dengan dokter Widi Hani menghampiriku,
"Ndyn, kamu udah sadar?? Kamu udah denger penjelasan dari dokter Widi tadi?"
"Iya Han, aku udah denger semuanya, apa separah ini kondisiku Han?apa bener aku kena leukemia?
"Aku juga belum tau Ndyn, lebih baik besok aku temenin kamu ke rumah sakit ya, biar lebih jelasnya gimana."
"Tapi aku takut Han, aku takut kalo emang bener aku kena leukemia"
"Udahlah Ndyn kita kan belum tau yang sebenere jadi g usah takut gitu, aku janji aku bakal selalu nemenin kamu."
"Makasih ya Han kamu emang sahabat terbaikku."
Keesokan harinya aku ditemani oleh Hani menuju rumah sakit, disana aku menjalani rangkaian tes. Di rumah sakit itu aku menemui dokter Aldi
"Andyn,hasil lab kamu masih belum bisa jadi hari ini, kemungkinan besok udah jadi. Kamu bisa ambil ke rumah sakit lagi, dan ini aku berikanka kamu resep."
"Iya dok, besok aku akan datang lagi untuk ambil hasil labku. Makasih ya dok."
"Iya Ndyn, lekas sembuh ya."
"Iya dok."
"Andyyyyynnn,,,,,wooooyyy....banguuuunnnn....gak ke kampuz kamu?? mank gak ada jadwal bimbingan?"
"Aaaahh...beriiissiiikk kamu Han,,aku gak ada jadwal bimbingan kok hari ini tapi ada jadwal ketemu dokter cakep...hihiihihii"
"Haaahh....dokter cakep??siapaaa??dokter Aldy ya??"
"Yuuppzzz...tar aku mau ambil hasil lab Han, temenin lagi ya..eh ya aku harap kamu jangan kasih tau Ridho ya soal aku kemaren."
"Ok dh aku temenin, siiiaaapp,,aku gak bakal bilang ke ridho kok Ndyn."
"Siippp...aku mandi dulu deh Han, bentar ya."
Hari itu dengan ditemenin Hani aku pergi ke rumah sakit lagi, deg-degan dan takut yang aku rasain. Sampai akhirnya aku sampai di ruangan dokter Aldy, ternyata dokter Aldy sudah menungguku.
"Siang dok, maaf dok datengnya siang"
"Siang juga Ndyn, iya gak papa kok. Oh ya ini hasil dari lab kamu kemaren. Kamu yang kuat ya."
Dengan tangan yang gemetar aku buka amplop coklat itu. Dan.....benar apa yang dikatakan dokter Widi, aku terkena leukemia.
"Dok, ini...ini gak salah dok? Ini hasil labku kemaren dok? Gak dok, ini gak bener kan? Ini bukan hasil labku kan dok? Pasti ini salah kan dok?"
Akupun menangis sejadinya di ruang dokter Aldy. Dan Hanipun ikut melihat hasil lab itu.
"Kamu yang sabar ya Ndyn, memang itulah hasil lab kamu kemaren,leukemia kamu udah stadium tiga,dan kamu kalo ingin sembuh kamu harus operasi."
Tanpa dikomando lagi, akupun lansung keluar dari ruangan dokter Aldy. Sampai diluar rumah sakit Hani mengehentikan langkahku.
"Ndyn, sabar ya ini cobaan, kamu harus kuat. Kamu gak sendiri Ndyn, ada aku yang bakal selalu nemenin kamu."
"Aku gak nyangka Han, kenapa harus aku? Kenapa bukan orang lain yang megalami ini? Ya Tuhan,,leukemia Han,,,leukemia,,setau aku ini bukan penyakit yang enteng."
"Aku ngerti gimana perasaan kamu Ndyn, tapi ini realita, ini fakta yang harus kamu hadapi. Yaudah sekarang kita pulang aja yuk, istirahat. Kamu gak boleh terlalu capek."
Akupun pulang ke kos bareng Hani, sesampai di kos lagsung aku tumpahkan semuanya.
Berminggu-minggu lamanya aku berdiam diri di kamar kos, sampai suatu ketika Ridho datang ke kosku karena aku pun juga telah lama mengabaikan dia.
"Sayang, kamu kemana aja? Sebenere apa yang kamu sembunyikan dari aku?"
Aku tak mampu menjawab pertanyaan dari Ridho, hanya air mata yang menjawab semua pertanyaannya.
"Aku gak papa kok yank, aku cuma lagi gak enak badan aja, biasa kan harus ngurusin skripsi tiap hari."
"Bener kamu gak papa? Ini aku bawain coklat kesukaan kamu."
" Makasih yank,iya bener aku gak papa kok."
Akhirnya seharian itu aku ditemani Ridho dan Hani di kos. Sampai akhirnya Ridho pamit untuk pulang.
"Sayang aku pulang dulu ya. Kamu cepet sembuh ya, tar kalo kamu udah sembuh aku bakal ajak kamu kemanapun kamu mau."
"Iya sayang doain aku bisa cepet sembuh ya."
"Kamu pasti sembuh yank, apapun sakit kamu aku yakin kamu pasti sembuh."
"Iya sayang, makasih doanya ya. Kamu ati-ati ya, tar nyampe rumah langsung kasih kabar aku ya."
"Iya sayang, pasti. aku pulang dulu ya."
Hari-haripun berganti dengan cepat, kondisikupun semakin membaik, membaik karena aku selalu konsumsi obat-obat itu. Sampai pada akhirnya sidang skripsipun telah aku lewati, dan tidak terasa besok adalah hari yang paling aku tunggu-tunggu selama empat tahun kuliah. Besok wisuda...yaaa,, wisuda. Hari ini kedua orang tua serta adik-adikku datang ke kota ini.
Hari H-pun telah usai, semarak wisuda telah rampung. Aku dan kedua orang tua serta adik-adikku kembali ke kos. Tapi ini justru merupakan awal dari semuanya.
"Ndyn, umur kamu sudah dewasa, ayah dan ibu sudah berpikir untuk mencarikan kamu calon pendamping hidup kamu."
"Maksudnya bu? Mencarikan gimana? Kan Andyn udah punya pacar bu."
"Andyn pacar kamu itu apa bisa mencukupi kehidupan kamu nantinya? Apa pekerjaan pacar kamu? Gak jelas kn? Ibu sama Ayah udah memutuskan kamu harus menikah denga anak dari teman kita, anaknya baik, sholeh, pintar dan yang pasti jelas asal usulnya."
Remuk hatiku mendengar kata-kata ibu, sampai seigitunya ibu menilai Ridho, seburuk itukah Ridho dimata ibu? Setidak pantas itukah Ridho untuk menjadi anggota keluarga ini?
Akupun kembali ke kota kelahiranku, dan suatu hari ibu mempersiapkan berbagai macam masakan dan makanan
"Bu, tumben ibu masak segini banyaknya, untuk apa bu?"
"Nanti ada tamupenting Ndyn, udah sana kamu siap-siap dulu."
"Kok Andyn disuruh siap-siap sih bu? memangnya siapa sih tamu penting itu?"
"Udah sana kamu siap-siap dulu Ndyn, jangan lupa pake baju yang pantas."
"Iiiihh...ibu aneh dh,,iya sh Andyn siap-siap dulu."
Malam tepat jam tujuh tamu penting itupun datang, aku pun ikut menyalami mereka satu persatu. Dan tiba pada sosok itu, aku merasa tidak asing dengan sosok itu. Lama kami saling berpandangan danakhirnya akupun ingat siapa sosok itu. Yaa...dia adalah dokter Aldy, dokter yang menangani penyakitku, untuk apa dokter Aldy kesini?
Pada akhirnya aku paham untuk apa dokter Aldy datang, yaa...dokter Aldy inilah yang akan dijodohkan orang tuaku denganku. Ya Tuhan,,,,apalagi ini? Selama pertemuan ini aku lebih banyak diam, dokter Aldy pun begitu hingga pada akhirnya ibu menyuruh aku untuk ngobrol berdua dengan dokter Aldy.
"Gimana kabarmu Ndyn? Aku denger kamu udah wisuda ya kemaren?"
"Kabarku ya gini-gini aja dok, kadang masih sering mimisan."
"Obatnya gak pernah telat minum kan?"
"Gak kok dok, cuma kalo lagi banyak pikiran dan banyak kegiatan aku sering pusing dan akhirnya mimisan itu."
"Kalo gitu jangan sering-sering banyak pikiran donk Ndyn, hehehee"
"Iya dok."
Hanya itu yang bisa aku balas dari lelucon yang dilontarkan dokter Aldy.
"Sebenere aku gak tau siapa yang akan orang tuaku kenalkan ke aku, kemaren saat aku pulang orang tuaku cuma bilang kalo aku akan dikenalin dengan seorang anak teman mereka."
"Ooo...sama dok aku juga gak tau kalo yang akan dikenalkan itu dokter."
"Jangan panggil dok lah Ndyn, panggil aja Aldy."
"Iya Aldy. Kamu udah tau apa maksud orang tua kita mengenalkan kita ini?"
"Iya,,aku tau Ndyn, mereka ingin kita menikah"
"Tapi kan kita baru kenal, mana mungkin kita menikah, apa kamu setuju dengan perjodohan ini Al?"
"Sebenernya aku kurang setuju dnegan adanya perjodohan tapi aku gak mau mengecewakan kedua orang tuaku Ndyn, mereka menaruh harapan besar untukku, yaa kamu tau kan aku adalah anak pertama, jadi mereka juga inginkan yang terbaik untukku."
"Tapi Al, kamu juga tau sendiri kan, aku penyakitan, umurku gak panjang apa gak malah menambah beban kamu kelak?"
"Sakit pasti ada obatnya Ndyn, dan kalo memang kita berjodoh aku ikhlas kok terima kamu dengan segala kondisi kamu saat ini."
"Apa bener itu semua Al?"
"Iya Ndyn, tapi kalo kita belum ada jodoh aku harap kita tidak akan jadi musuh, aku harap kita akan bisa tetep jadi saudara."
Lama kami berbincang dan akhirnya dia dan keluaganya pun pamit pulang.
Akupun menceritakan hal ini ke Hani, Hani sangat kaget mendengar cerita ini.
"Gilaa....dokter Aldy Ndyn? dokter Aldy dokter kamu itu kan?"
"Iya Han,, aku bingung. Jujur disatu sisi aku gak mau kecewain kedua orang tuaku, tapi disisi lain aku juga gak mau kecewain Ridho, kamu tau sendiri kan gimana lamanya hubunganku dengan Ridho."
"Iya Ndyn aku ngerti, ternyata orang tua kamu bener-bener gak bisa terima Ridho. Ndyn apa kamu sanggup ngomong hal ini ke Ridho? kalo sebenere kamu udah di jodohin?"
"Sebenere itu yang aku pikirin selama ini Han, aku mikir aku akan ngomong ini semua ke Ridho, aku nyerah Han, aku nyerah."
"Andyn, kalo mank kalian bisa pertahanin hubungan kalian ini kenapa kamu nyerah?"
"Aku nyerah Han, aku udah gak bisa terusin hubunganku dengan Ridho terlalu rumit semua ini."
"Kalo mank itu keputusan kamu, aku bakal dukung Ndyn, kamu yang sabar ya, yakin ada hikmah dan kebahagiaan di balik ini semua."
Malam itu setelah aku telfon Hani tiba-tiba saja kepalaku pusing lagi. Tapi yang aku rasa ini lebih pusing dari biasanya dan akhirnya darah segar pun menetes dari hidungku. Ya Tuhan kenapa jadi seperti ini? Lebih baik aku Kau panggil sekarang, aku ikhlas Tuhan. Tanpa sadar aku pun tertidur dengan masih berbalut seprei yang terkena darah. Pagi-pagi aku kaget karena tiba-tiba aku dengar ibu sudah berteriak-teriak di depan kamarku.
"Andyynn.....ayoo banguun...udah siang Ndyynn..!!!"
"Iya ibu..Andyn udah bangun."
"Sarapan dulu Ndyn.. Eh ya tar siang Aldy mau ke rumah, kamu harus siap-siap ya"
Haduuhh...kenapa lagi sih anak itu dateng kerumah padahal hari ini aku mau nemuin Ridho
"Iya buu.."
Akhirnya akupun dengan badan yang masih lemas turun ke bawah untuk sarapan bersama,
"Ndyn tar Aldy mau ke rumah looh, kamu siap-siap ya"
"Iya bu, tadi kan ibu udah bilang kan"
Akhirnya siang itu pun Aldy datang ke rumah.
"Kamu kok keliatan pucet sih Ndyn? Pusing lagi? Atau jangan-jangan mimisan lagi?"
"Iya semalem aku pusing lagi Al sama mimisan lagi"
"Ya Tuhan,, banyak mimisanmu?"
"Ya lumayan sih Al pusing semalem juga gak kayak biasanya, berasa sakit banget semalem"
"Ndyn kamu harus periksa lagi, besok aku anter kamu periksa lagi ya. Aku takut kanker kamu makin parah"
"Memangnya kenapa kalo makin parah Al, bukannya lebih bagus ya jadi kan kamu gak akan repot-repot ngurusi orang yang penyakitan kayak aku ini"
"Kamu kok ngomong sinis gitu sih Ndyn? Salah kalo aku perhatian dengan calon istriku sendiri?"
Apa...calon istri?? Jadi Aldy udah bener-bener anggep aku calon istrinya??
"Tapi Al besok aku masih harus nemuin temen dulu"
"Aku anter kamu Ndyn"
"Gak usah Al,aku bisa sendiri kok, kalo aku butuh bantuan kamu aku bakal telpon kamu"
"Iya udah kalo mank tu maunya kamu, tapi bener ya besok kamu langsung telpon aku kalo kamu butuh apa-apa"
"Iya Al"
Malam harinya aku putuskan untuk menghubungi Ridho
"Sayang, besok kita ktemuan ya, ada hal penting yang harus kita bicarakan"
"Iya sayang aku jemput kamu dimana?"
"Gak usah jemput yank, besok aku naik taksi aja, besok kamu tunggu aku di tempat biasa ya jam 10 pagi ya yank"
"Ok sayang, beneran besok gak aku jemput?"
"Iya gak usah kamu jemput"
Akhirnya aku pun ketemu dengan Ridho, mungkin ini pertemuanku yang terakhir dengannya
"Sayang, aku minta maaf ya sama kamu, selama ini aku udah banyak salah sama kamu"
"Kok minta maaf sih? kamu gak ada salah apa-apa kok"
"Sayang,, aku...aku.. dijodohin sama orang tua aku. Dan aku gak bisa nolak yank."
"Apaa...kamu beneran ini?? Kamu becanda kan yank? Ini gak beneran kan??"
"Ini beneran yank, dan aku gak bisa nolak semuanya karena ternyata mereka udah memilih hari untuk pernikahanku. Maafin aku yank..maafin aku, aku gak bisa pertahanin dan perjuangin hubungan kita ini"
Tak sangggup aku tahan semua air mata ini, saat itu aku lihat pula dia menangis. Laki-laki yang aku lihat paling tegar akhirnya aku melihatnya runtuh.
"Baiklah yank kalo memang itu udah keputusan dari orang tua kamu aku bisa apa?Aku hanya manusia kecil yang tak ubahnya seperti debu yang dengan mudah mereka singkirkan"
"Stop Ridho!!! Apa kamu gak tau kalo aku juga terluka? Aku juga tersiksa dengan keadaan ini!!"
Akhirnya untuk terakhir kalinya aku merasakan pelukan Ridho, untuk terakhir kalinya...yaa terakhir kalinya.
Akhirnya akupun pulang, tapi disaat aku belum mendapatkan taksi Aldy menelponku
"Ndyn kamu dimana?? Kamu gak papa kan??"
Aneh,,kenapa tiba-tiba dia bertanya seperti ini?
"Aku di jalan Al, aku mau pulang tapi kepalaku pusing banget"
"Kamu dimana sekarang? Tunggu di situ aku bakal jemput kamu"
"Aku ada di cafe rain Al, iya aku tunggu"
"Ya udah kebetulan aku di daerah deket situ, tunggu aku Ndyn kamu jangan kemana-mana"
"Iya Al iya,,"
Selang lima belas menit setelah Aldy telpon dia sudah ada di depanku yang sedang menahan tangis dan sakit.
"Ayo kita ke rumah sakit Ndyn"
"Gak Al, aku mau pulang aja"
Tanpa sadar setelah mengucapkan kata-kata itu aku langsung pingsan
Setelah sadar aku sudah berada di rumah sakit, disana sudah ada ibu yang menangis dan ayah yang menahan tangisnya.
"Ibu,,ayah kenapa nangis? Andyn gak papa kok bu"
"Andyn kenapa kamu gak bilang sama ibu sama ayah kalo sebenernya kamu sakit nak? Kenapa???"
"Andyn gak sakit bu, Andyn baik-baik saja"
"Gak usah bohong Ndyn, Aldy udah cerita semua, kalo sebenernya kamu adalah pasiennya"
Ternyata penyakitku sudah semakin parah, dan dokterpun sudah mengatakan penyakitku sudah masuk stadium empat, itu tandanya aku sudah masuk dalam stadium yang terakhir. Tuhan..apa aku harus kembali padaMu? Ampuni dosa-dosaku Tuhan..Kuatkan selalu aku untuk hadapi semua ini.
Setelah kejadian itu hari-hariku di sibukkan dengan kemoterapi dan minum obat-obatan. Aldy selalu menemaniku di saat-saat sulitku, dia dengan sabar selalu menguatkan aku yang hampir rapuh. Benar kata ibu, dia orang yang baik, dia orang yang perhatian. Sampai akhirnya suatu hari dia mengatakan sesuatu
"Ndyn,, maukah kamu menikah denganku?"
Aku hanya mampu menatapnya tanpa mampu menjawab apa-apa saat dia mengeluarkan cincin itu dari tempatnya.
"Al apa kamu gak salah? Aku penyakitan Al dan umur aku gak panjag lagi. Lebih baik kamu cari perempuan sehat lainnya, yang bisa menemani dan menjagamu"
"Ndyn aku gak peduli dengan kondisi kamu saat ini, aku udah menyayangi kamu Ndyn setelah kita ketemu pertama kali, mungkin ini konyol tapi memang inilah yang aku rasain. Andyn putri darmawan sekali lagi aku katakan maukah kamu menikah denganku?"
Aku tak mampu berkata apa-apa lagi, dan tanpa aku sadari aku anggukkan kepalaku, dan dia langsung memakaikan cincin itu di jari manisku yang telah mengurus.
"Hehheee...cincinnya kegedean Al, hmmm...tapi cincinnya yang kegedean atau jariku ya yang mengecil...hehheee..."
"Hehheee..iya ni,halaah gampang tar kita pesen cincin yang ukurannya pas dengan jarimu"
"Al, makasih ya udah mau ngelamar aku yang kayak gini"
"Udah Ndyn kamu gak usah ngomong aneh-aneh aah...yang pasti sekarang aku udah resmi ngelamar kamu"
Setelah lamaran Aldy itu kondisiku semakin drop dan semakin drop. Aku capek Tuhan jika terus hidup seperti ini, hidup bergantung dengan obat-obatan. Aku ingin hidup normal lagi seperti dulu, aku ingin bisa tertawa lagi, aku ingin bisa tersenyum lagi becanda dengan teman-teman dan pergi keluar bareng-bareng. Kapan aku bisa seperti itu lagi Tuhan?? Kapan...???
Malam itu entah apa yang terjadi tapi yang jelas sebelum acara pertunangan itu selesai aku merasakan hal yang teramat sakit luar biasa. Lebih sakit dari biasanya, aku tidak sanggup untuk menahannya akhirnya aku pun pingsan. Saat aku berada dalam keadaan yang tidak sadar aku merasa ada di tempat yang indah, sejuk, dan disana aku bertemu dengan eyang putri. Eyang putri memanggilku.
"Andyn,, cucu eyang yang baik sini nak"
"Eyang,,Andyn ada dimana ini? Kok ada eyang disini?"
"Andyn ini kan yang kamu inginkan? Berada di tempat yang nyaman, indah, sejuk dan tanpa ada rasa sakit lagi?"
"Iya eyang,, ini yang Andyn mau.. Uuumm,,eyang Andyn boleh tinggal disini?"
"Iya Andyn kamu boleh tinggal disini, memang sekarang inilah rumahmu, tapi Andyn kamu harus pamitan dulu sam ayah dan ibumu. Kasian mereka kalo kamu tiba-tiba ilang dan tidak pamit"
"Iya eyang Andyn mau pamit dulu ya"
Ternyata aku sudah koma selama seminggu, saat aku sadar semua orang yang aku sayangi berada di sekelilingku. Mereka menangis sesenggukan apalagi ibu, aku lihat wajah ibu sudah sangat lelah. Saat mereka melihatku sadar senyum yang pertama mereka berikan. Ibu langsung memelukku dan ayah langsung meneteskan air mata, Aldy pun ada di sana. Aku tak sanggup berkata apa-apa lagi karena sudah terlalu sakit yang aku rasakan, aku meminta ayah untuk memberikanku pensil dan dengan susah payah aku dapat menulis satu kalimat
"Ayah, Ibu, Aldy maafin Andyn. Andyn capek,,Andyn ingin istirahat, Andyn ingin tidur"
Setelah menulis itu dan mendapat persetujuan dari mereka aku pun istirahat, aku pun tertidur dan kembali saat aku bangun aku melihat eyang telah menjemputku. Eyang telah membuka pelukannya untukku.
PurpleGirl, July 11 '14
Kamis, 10 Juli 2014
Sandiwaraku
Hidup ini panggung sandiwara,sepertinya memang benar lah adanya
Sering aq lihat dan rasakan apa yang aq alami tidaklah sama dengan apa yang aq rasakan
Senyumku,,,tawaku,,,semua itu tak ubahnya hanyalah ilusi semata
kadang aq ingin kembali menjadi anak-anak
yang tak pernah berfikir harus sembunyikan perasaan yg mereka rasakan
yang tak pernah berfikir harus berpura-pura dalam menjalani hari-harinya
kadang aq ingin menjadi mereka yang dengan mudah bs tersenyum dan tertawa lepas
kadang aq ingin menjadi mereka yang dengan mudah bs rasakan bahagia tanpa harus rasakan duka
sandiwaraku...entah sampai kapan aq jalani ini semua
berpura-pura baik tp sebenernya campur aduk yg aq rasakan
sandiwaraku...entah sampai kapan aq berteman denganmu
namun yg jelas aq hanya ingin melihat orang yg aq sayang tersenyum
krna senyum mereka lebih berarti drpdsenyumku
purplegirl, 10 July '14
Sering aq lihat dan rasakan apa yang aq alami tidaklah sama dengan apa yang aq rasakan
Senyumku,,,tawaku,,,semua itu tak ubahnya hanyalah ilusi semata
kadang aq ingin kembali menjadi anak-anak
yang tak pernah berfikir harus sembunyikan perasaan yg mereka rasakan
yang tak pernah berfikir harus berpura-pura dalam menjalani hari-harinya
kadang aq ingin menjadi mereka yang dengan mudah bs tersenyum dan tertawa lepas
kadang aq ingin menjadi mereka yang dengan mudah bs rasakan bahagia tanpa harus rasakan duka
sandiwaraku...entah sampai kapan aq jalani ini semua
berpura-pura baik tp sebenernya campur aduk yg aq rasakan
sandiwaraku...entah sampai kapan aq berteman denganmu
namun yg jelas aq hanya ingin melihat orang yg aq sayang tersenyum
krna senyum mereka lebih berarti drpdsenyumku
purplegirl, 10 July '14
Rabu, 09 Juli 2014
Kata orang ini cintaterlarang
Namaku Dara, aku seorang mahasiswi di perguruan tinggi swasta ternama dikotaku. Semua orang bilang aku menarik,tapi aku merasa semua orang itu terlalu berlebihan. Seperti layaknya para mahasiswi yang lain, hari-hariku aku isi dengan menyelesaikan tugas dari dosen dan kegiatan kampus lainnya.
Aku merasa hidup dan hari-hariku tidaklah menarik malah cenderung membosankan, tapi untungnya aku punya teman yang selalu bisa berkumpul meskipun banyak tugas yang menghadang. Sosial media adalah salah satu sahabat terbaikku, tanpa dia aku merasa hidupku hampa, dan bisa dibilang aku telah kecanduan dengan adanya sosial media itu. Banyak orang dan berbagai macam karakter aku temui di sosial media. Sampai suatu ketika aku yang teramat sangat penasaran oleh istilah cinta terlarang akupun berusaha mencari tau orang-orang yang terlibat di dalamnya. Hingga aku berkenalan dengan sosok yang bernama mitha. Perkenalanku dengan Mitha pun terjalin di sosial media, dia yang aku liat menarik langsung aku invite ke sosial mediaku. Lambat laun perkenalanpun terjalin, dan ternyata Mitha tinggal satu kota denganku. Wooow...ini menarik.
Tanpa terasa pertemanan antara aku dan Mitha telah lama terjalin, mulai dari saling curhat hingga akhirnya dia mengatakan dia menyayangiku, aku terkejut...sangat terkejut terlebih lagi kita adalah sama-sama terlahir sebagai perempuan. Banyak alasan aku coba untuk meninggalkan Mitha, tapi tiap cara yang aku coba aku semakin tersiksa. Entah apa ini namanya, tapi yang pasti aku rasa mungkinkah aku menyayanginya? Mungkinkah aku mencintainya? Ya Tuhan,,perasaan apa ini?? Kenapa ini terjadi padaku? Aku hanya penasaran dengan dunia mereka, tapi apakah aku harus jatuh dalam dunia mereka?? Saat itu rasanya aku ingin protes, aku ingin teriak, aku ingin berontak, dan aku ingin ingkari perasaan ini.
Tapi pada akhirnya akupun menyerah, selama hitungan 9 bulan Mitha terus mendekati dan meyakinkanku bahwa memang dia benar-benar menyayangi, mencintaiku dan rasa ini tidaklah salah. Dan Tuhan aku terjebak, aku menerimanya, menerima cintanya, menerima sayangnya dan menjalani hari-hari bersamanya. Ohh..Tuhan ternyata setelah bersamanya aku merasakan hari-hari yang lebih berwarna, hari-hari yang lebih menyenangkan. Aku bahagia Tuhan,,,aku bahagia.... meskipun banyak yang menentang antara lain adalah mantannya yang tidak terima Mitha bersamaku.
Tia adalah mantan dari Mitha, dia tidak terima aku jadian dengan Mitha hingga bermacam terorpun dia berikan, tapi Mitha tak pernah pergi dari sisiku, dia yang selalu membela dan melindungiku. Sampai pada akhirnya Tia pun menghilang dengan sendirinya setalah Mitha memarahinya. Selang hubungan kami berjalan 2bulan Mitha mengatakan dia akan pergi jauh untuk bekerja. Sore itu saat kami bertemu dia mengatakan hal itu "Sayang, aku akan pergi jauh, sebenernya aku g ingin ninggalin kamu, tapi kamu tau kan keadaan keluargaku, aku g sanggup kalo harus terus-terusan melihat orang tuaku seperti itu".Saat itu akupun terdiam, dan hanya mampu menangis. Tak ada yang mampu aku lakukan. "Sabar sayang, aku hanya pergi sebentar, dan aku akan kembali ke sini, kembali kepelukanmu dan kita akan bersama lagi". Akhirnya dia berkata kembali.
Akhirnya saat perpisahan pun aku jalani, aku tak sanggup melihatnya, aku tak sanggup lalui hari itu. "Cepet pulang sayang, aku g sanggup sendiri tanpa kamu"
"Iya sayang aku akan cepet pulang, aku janji aku pulang untuk kamu, jaga diri baik-baik. Inget ya aku disana kerja dan kamu disini kuliah, saat aku pulang tar aku ingin denger kamu udah berhasil dengan kuliahmu"
"Iya sayang, pasti aku akan jaga diri aku baik-baik, kamu juga jaga diri baik-baik, jaga hati kamu, aku akan selalu nunggu kamu pulang"
"Aku pamit sayang, aku pergi dulu doakan aku sukses ya, i love u cintaku"
"Hati-hati sayang, pasti doa terbaik yang aku panjatkan untuk kamu, i love u too"
Hari itu Selasa,26 November 2013 dia pergi meninggalkanku. Saat itu juga aku berjanji aku akan menunggu dia pulang, dan akan tetap manjaga cinta ini hanya untuknya...Mitha cinta pertama belokku, Mitha sosok pertama yang hadir dalam dunia belokku..
Hari dan bulan pun berlalu, tiba saatnya dia menghubungiku setelah berbulan-bulan tanpa kabar. Nano-nano rasanya, seneng, terharu, sedih semua ada.
"Sayang, apa kabar?? Aku disini baek2 aja, alhamdulillah kerjaanku bisa aku handle semua, bosku juga baik, meskipun kadang juga banyak maunya. Gimana kuliah km?lancar kan? kngeeenn km yank". Itulah yang dia tulis untuk pertama kali di inbox sosial mediaku. Dengan tak sabar aku pun membalas inboxnya, "Kabar aku baik sayang, alhamdulillah kalo kamu di sana juga baik, sabar ya sayank namanya kerja psti ada enak n enggaknya. Jaga ksehatan ya syank..aq jg kngeeennn bangeeett sm kamu yank". Hanya itu yang mampu aku tuliskan. Ternyata komunikasiku dengan dia tak selancar yang aku bayangkan, tapi aku tetap bersyukur karena aku masih diberi kesempatan untuk komunikasi.
Bulan pun berganti dan komunikasi diantara kami semakin merenggang, sampai pada akhirnya sama sekali tidak ada komunikasi. Aku benar-benar g ngerti dengan apa mau dia. Sampai saat itu setelah lama aku nunggu penjelasan dari dia akhirnya dia menguhubungiku. Dia menguhubungiku hanya untuk mengatakan dia ingin mengakhiri hubungan ini.
"Aku minta maaf sekian lama aku udah cuekin kamu, sekian lama aku udah gantung hubungan kita ini, aku hanya ingin bilang lebih baik kita jalan sendiri2".
Bagai runtuh dunia yang aku pijak saat itu, tanpa sadar air mata ini mengalir.
"Maksud kamu apa?"
Hanya itu yang sanggup aku tuliskan
"Udah jelas kan maksud aku apa"
Saat aku baca balasan dia lagi-lagi tangis yang menguatkan aku.
"Ok Mitha, klo itu mau km, aq terima. km jahat, ap salah aq sm km smpe km tega kyk gni sm aq. knp Mitha..knp????????!!!!"
Tak ada lagi penjelasan yang aku dapat dari dia kenapa sampai dia tega akhiri hubungan ini.Dimana janji dia dulu?
Hari-haripun berlalu dengan aku yang masih belum bisa menghentikan tangis ini. Hingga suatu ketika aku berkenalan dengan seorang yang memiliki gaya yang sama dengan dia. Tiap saat aku selalu curahkan isi hati aku, kekecewaanku, air mataku dan dengan sabar dia selalu mendengarkan semuanya. Hingga akhirnya dia pun ungkapin niatnya, dia inginkanku untuk jadi kekasihnya. Sebenarnya saat itu aku tak ada rasa cinta untuk dia tapi dengan pertimbangan aku ingin melupakan Mitha akhirnya akupun menerimanya. Hubungan pun berjalan hanya bertahan 3bulan saat aku tau dia selingkuh. Saat itu juga aku putuskan untuk meningglkannya. Dan disisi lain hubunganku dengan Mitha semakin membaik, saat itu dia ungkapkan kenapa dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini,
"Maaf y, alasan aq kmren mutusin hubungan kita cz aq g ingin km sedih jauh terus dr aq, km berhak bhgia, mgkn dg lpas dr aq km akn temui sosok yg lbh baik d sna. LDR itu jmblo yg terikat n aq g mau km trus2an trikat dg keadaan ini.
"Km kn udh tau aq bkal nunggu km smpe km plg, km g ush kwtir dg keadaan aq cz skali aq blg aq bkal nunggu km brrti aq akn ttp nunggu km. tp trnyta km lbh mlih bwt ningglin aq."
"Maaf y,skali lg aq mnta maaf sm km"
"iya"
Hati-hari aku lalui dengan tetap berhubungan baik dengan Mitha, sampai suatu ketika dia mengatakan dia jadian dengan temannya di sana. Sebenere sakit, ada rasa g terima tapi aku sadar aku hanya mantan yang sudah tidak memiliki hak apapun atas hidupnya. Akhirnya dia pun jadian dengan temannya itu tapi ternyata hubungan mereka hanya bertahan beberapa bulan. Dan dia pun kembali jadian dengan temannya yang lain. Nyesek iya, tidak terima pun juga iya tapi lagi-lagi aku ini siapa. Sampai akhirnya aku menemukan sosok yang benar-benar bisa menggantikan dia, dan sosok itu adalah Fay. Dia yang bisa mengalihkan perhatianku dan pikiranku yang awalnya masih terus memikirkan Mitha. Dia yang bisa membuka hatiku kembali setelah sekian lama aku tutup rapat. Tapi ternyata hubunganku dengan Fay tidak berjalan baik, tepat di usia hubungan 6bulan aku mengetahui Fay selingkuh. Dan akhirnya akupun harus kehilangan Fay kehilangan orang yang benar-benar aku cintai lagi. Rasanya lebih sakit dari aku kehilangan Mitha. Sedangkan Mitha, dia sekarang sudah memiliki kekasih yang baru, kekasih yang benar-benar dia cintai. Ingin rasanya aku berontak, ingin rasanya aku bilang kalau aku masih menyayanginya, tapi aku tidak mau menggahnggu hubungan mereka. Di depan Mitha aku selalu berpura-pura baik-baik saja. Aku selalu berpura-pura seneng melihat dia bahagia dengan kekasih barunya, tapi dalam hatiku aku masih tidak bisa menerima ini semua. Harusnya cewek yang berbahagia dengan Mitha itu aku, harusnya cewek yang ikut tertawa berasamanya adalah aku bukan cewek itu...!!
Sampai saat inipun aku masih belum bisa hilangkan bayangan Mitha dan Fay, aku masih selalu ingat akan janji yang di ucapkan Mitha, bahwa dia akan kembali untukku, kembali untuk cinta kita. Lihat Mitha,,lihaat...aku telah berhasil dengan kuliahku, aku tetap akan tunggu kamu pulang meskipun aku tau kepulanganmu tidak untuk cinta kita seperti janji yang telah kamu ucapkan dulu.
Aku tau ini cinta terlarang, cinta yang tak boleh ada, tapi aku tak dapat aku pungkiri aku mencintai mereka, Mitha dan Fay. Meskipun banyak yang menghujat tapi aku bisa apa dengan perasaan ini? Tuhan ampuni aku, ampuni semua dosaku. Entah sampai kapan aku terperosok dalam cinta terlarang ini. Tapi yang pasti selagi aku bernyawa, aku akan menjaga kesungguhan cinta yang aku punya, meskipun itu cinta yang terlarang.
PurpleGirl,10 July '14
Aku merasa hidup dan hari-hariku tidaklah menarik malah cenderung membosankan, tapi untungnya aku punya teman yang selalu bisa berkumpul meskipun banyak tugas yang menghadang. Sosial media adalah salah satu sahabat terbaikku, tanpa dia aku merasa hidupku hampa, dan bisa dibilang aku telah kecanduan dengan adanya sosial media itu. Banyak orang dan berbagai macam karakter aku temui di sosial media. Sampai suatu ketika aku yang teramat sangat penasaran oleh istilah cinta terlarang akupun berusaha mencari tau orang-orang yang terlibat di dalamnya. Hingga aku berkenalan dengan sosok yang bernama mitha. Perkenalanku dengan Mitha pun terjalin di sosial media, dia yang aku liat menarik langsung aku invite ke sosial mediaku. Lambat laun perkenalanpun terjalin, dan ternyata Mitha tinggal satu kota denganku. Wooow...ini menarik.
Tanpa terasa pertemanan antara aku dan Mitha telah lama terjalin, mulai dari saling curhat hingga akhirnya dia mengatakan dia menyayangiku, aku terkejut...sangat terkejut terlebih lagi kita adalah sama-sama terlahir sebagai perempuan. Banyak alasan aku coba untuk meninggalkan Mitha, tapi tiap cara yang aku coba aku semakin tersiksa. Entah apa ini namanya, tapi yang pasti aku rasa mungkinkah aku menyayanginya? Mungkinkah aku mencintainya? Ya Tuhan,,perasaan apa ini?? Kenapa ini terjadi padaku? Aku hanya penasaran dengan dunia mereka, tapi apakah aku harus jatuh dalam dunia mereka?? Saat itu rasanya aku ingin protes, aku ingin teriak, aku ingin berontak, dan aku ingin ingkari perasaan ini.
Tapi pada akhirnya akupun menyerah, selama hitungan 9 bulan Mitha terus mendekati dan meyakinkanku bahwa memang dia benar-benar menyayangi, mencintaiku dan rasa ini tidaklah salah. Dan Tuhan aku terjebak, aku menerimanya, menerima cintanya, menerima sayangnya dan menjalani hari-hari bersamanya. Ohh..Tuhan ternyata setelah bersamanya aku merasakan hari-hari yang lebih berwarna, hari-hari yang lebih menyenangkan. Aku bahagia Tuhan,,,aku bahagia.... meskipun banyak yang menentang antara lain adalah mantannya yang tidak terima Mitha bersamaku.
Tia adalah mantan dari Mitha, dia tidak terima aku jadian dengan Mitha hingga bermacam terorpun dia berikan, tapi Mitha tak pernah pergi dari sisiku, dia yang selalu membela dan melindungiku. Sampai pada akhirnya Tia pun menghilang dengan sendirinya setalah Mitha memarahinya. Selang hubungan kami berjalan 2bulan Mitha mengatakan dia akan pergi jauh untuk bekerja. Sore itu saat kami bertemu dia mengatakan hal itu "Sayang, aku akan pergi jauh, sebenernya aku g ingin ninggalin kamu, tapi kamu tau kan keadaan keluargaku, aku g sanggup kalo harus terus-terusan melihat orang tuaku seperti itu".Saat itu akupun terdiam, dan hanya mampu menangis. Tak ada yang mampu aku lakukan. "Sabar sayang, aku hanya pergi sebentar, dan aku akan kembali ke sini, kembali kepelukanmu dan kita akan bersama lagi". Akhirnya dia berkata kembali.
Akhirnya saat perpisahan pun aku jalani, aku tak sanggup melihatnya, aku tak sanggup lalui hari itu. "Cepet pulang sayang, aku g sanggup sendiri tanpa kamu"
"Iya sayang aku akan cepet pulang, aku janji aku pulang untuk kamu, jaga diri baik-baik. Inget ya aku disana kerja dan kamu disini kuliah, saat aku pulang tar aku ingin denger kamu udah berhasil dengan kuliahmu"
"Iya sayang, pasti aku akan jaga diri aku baik-baik, kamu juga jaga diri baik-baik, jaga hati kamu, aku akan selalu nunggu kamu pulang"
"Aku pamit sayang, aku pergi dulu doakan aku sukses ya, i love u cintaku"
"Hati-hati sayang, pasti doa terbaik yang aku panjatkan untuk kamu, i love u too"
Hari itu Selasa,26 November 2013 dia pergi meninggalkanku. Saat itu juga aku berjanji aku akan menunggu dia pulang, dan akan tetap manjaga cinta ini hanya untuknya...Mitha cinta pertama belokku, Mitha sosok pertama yang hadir dalam dunia belokku..
Hari dan bulan pun berlalu, tiba saatnya dia menghubungiku setelah berbulan-bulan tanpa kabar. Nano-nano rasanya, seneng, terharu, sedih semua ada.
"Sayang, apa kabar?? Aku disini baek2 aja, alhamdulillah kerjaanku bisa aku handle semua, bosku juga baik, meskipun kadang juga banyak maunya. Gimana kuliah km?lancar kan? kngeeenn km yank". Itulah yang dia tulis untuk pertama kali di inbox sosial mediaku. Dengan tak sabar aku pun membalas inboxnya, "Kabar aku baik sayang, alhamdulillah kalo kamu di sana juga baik, sabar ya sayank namanya kerja psti ada enak n enggaknya. Jaga ksehatan ya syank..aq jg kngeeennn bangeeett sm kamu yank". Hanya itu yang mampu aku tuliskan. Ternyata komunikasiku dengan dia tak selancar yang aku bayangkan, tapi aku tetap bersyukur karena aku masih diberi kesempatan untuk komunikasi.
Bulan pun berganti dan komunikasi diantara kami semakin merenggang, sampai pada akhirnya sama sekali tidak ada komunikasi. Aku benar-benar g ngerti dengan apa mau dia. Sampai saat itu setelah lama aku nunggu penjelasan dari dia akhirnya dia menguhubungiku. Dia menguhubungiku hanya untuk mengatakan dia ingin mengakhiri hubungan ini.
"Aku minta maaf sekian lama aku udah cuekin kamu, sekian lama aku udah gantung hubungan kita ini, aku hanya ingin bilang lebih baik kita jalan sendiri2".
Bagai runtuh dunia yang aku pijak saat itu, tanpa sadar air mata ini mengalir.
"Maksud kamu apa?"
Hanya itu yang sanggup aku tuliskan
"Udah jelas kan maksud aku apa"
Saat aku baca balasan dia lagi-lagi tangis yang menguatkan aku.
"Ok Mitha, klo itu mau km, aq terima. km jahat, ap salah aq sm km smpe km tega kyk gni sm aq. knp Mitha..knp????????!!!!"
Tak ada lagi penjelasan yang aku dapat dari dia kenapa sampai dia tega akhiri hubungan ini.Dimana janji dia dulu?
Hari-haripun berlalu dengan aku yang masih belum bisa menghentikan tangis ini. Hingga suatu ketika aku berkenalan dengan seorang yang memiliki gaya yang sama dengan dia. Tiap saat aku selalu curahkan isi hati aku, kekecewaanku, air mataku dan dengan sabar dia selalu mendengarkan semuanya. Hingga akhirnya dia pun ungkapin niatnya, dia inginkanku untuk jadi kekasihnya. Sebenarnya saat itu aku tak ada rasa cinta untuk dia tapi dengan pertimbangan aku ingin melupakan Mitha akhirnya akupun menerimanya. Hubungan pun berjalan hanya bertahan 3bulan saat aku tau dia selingkuh. Saat itu juga aku putuskan untuk meningglkannya. Dan disisi lain hubunganku dengan Mitha semakin membaik, saat itu dia ungkapkan kenapa dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini,
"Maaf y, alasan aq kmren mutusin hubungan kita cz aq g ingin km sedih jauh terus dr aq, km berhak bhgia, mgkn dg lpas dr aq km akn temui sosok yg lbh baik d sna. LDR itu jmblo yg terikat n aq g mau km trus2an trikat dg keadaan ini.
"Km kn udh tau aq bkal nunggu km smpe km plg, km g ush kwtir dg keadaan aq cz skali aq blg aq bkal nunggu km brrti aq akn ttp nunggu km. tp trnyta km lbh mlih bwt ningglin aq."
"Maaf y,skali lg aq mnta maaf sm km"
"iya"
Hati-hari aku lalui dengan tetap berhubungan baik dengan Mitha, sampai suatu ketika dia mengatakan dia jadian dengan temannya di sana. Sebenere sakit, ada rasa g terima tapi aku sadar aku hanya mantan yang sudah tidak memiliki hak apapun atas hidupnya. Akhirnya dia pun jadian dengan temannya itu tapi ternyata hubungan mereka hanya bertahan beberapa bulan. Dan dia pun kembali jadian dengan temannya yang lain. Nyesek iya, tidak terima pun juga iya tapi lagi-lagi aku ini siapa. Sampai akhirnya aku menemukan sosok yang benar-benar bisa menggantikan dia, dan sosok itu adalah Fay. Dia yang bisa mengalihkan perhatianku dan pikiranku yang awalnya masih terus memikirkan Mitha. Dia yang bisa membuka hatiku kembali setelah sekian lama aku tutup rapat. Tapi ternyata hubunganku dengan Fay tidak berjalan baik, tepat di usia hubungan 6bulan aku mengetahui Fay selingkuh. Dan akhirnya akupun harus kehilangan Fay kehilangan orang yang benar-benar aku cintai lagi. Rasanya lebih sakit dari aku kehilangan Mitha. Sedangkan Mitha, dia sekarang sudah memiliki kekasih yang baru, kekasih yang benar-benar dia cintai. Ingin rasanya aku berontak, ingin rasanya aku bilang kalau aku masih menyayanginya, tapi aku tidak mau menggahnggu hubungan mereka. Di depan Mitha aku selalu berpura-pura baik-baik saja. Aku selalu berpura-pura seneng melihat dia bahagia dengan kekasih barunya, tapi dalam hatiku aku masih tidak bisa menerima ini semua. Harusnya cewek yang berbahagia dengan Mitha itu aku, harusnya cewek yang ikut tertawa berasamanya adalah aku bukan cewek itu...!!
Sampai saat inipun aku masih belum bisa hilangkan bayangan Mitha dan Fay, aku masih selalu ingat akan janji yang di ucapkan Mitha, bahwa dia akan kembali untukku, kembali untuk cinta kita. Lihat Mitha,,lihaat...aku telah berhasil dengan kuliahku, aku tetap akan tunggu kamu pulang meskipun aku tau kepulanganmu tidak untuk cinta kita seperti janji yang telah kamu ucapkan dulu.
Aku tau ini cinta terlarang, cinta yang tak boleh ada, tapi aku tak dapat aku pungkiri aku mencintai mereka, Mitha dan Fay. Meskipun banyak yang menghujat tapi aku bisa apa dengan perasaan ini? Tuhan ampuni aku, ampuni semua dosaku. Entah sampai kapan aku terperosok dalam cinta terlarang ini. Tapi yang pasti selagi aku bernyawa, aku akan menjaga kesungguhan cinta yang aku punya, meskipun itu cinta yang terlarang.
PurpleGirl,10 July '14
Cerita aq dan hidup
Aku hanyalah daun yang tak tau arah dimana aku akan jatuh
Aku hanyalah daun yang hanya mampu ikiti angin membawaku
Wahai Sang pemilik hidupku aku mohon mudahkan semua ini,,,
Ridhoi keputusan yang telah aku ambil,,,
Jangan biarkan aku terjatuh lagi dalam salah jalanMu
myWorld,July 9 '14
Aku hanyalah daun yang hanya mampu ikiti angin membawaku
Wahai Sang pemilik hidupku aku mohon mudahkan semua ini,,,
Ridhoi keputusan yang telah aku ambil,,,
Jangan biarkan aku terjatuh lagi dalam salah jalanMu
myWorld,July 9 '14
Langganan:
Postingan (Atom)